Washington, LiputanIslam.com – Arab Saudi dilaporkan telah memberi tahu AS tentang keputusan Riyadh menunda semua negosiasi normalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel karena keengganan kabinet sayap kanan Israel untuk memberikan konsesi apa pun kepada Palestina.
Situs berita online Elaph yang berbasis di London, Ahad (17/9), mengutip pernyataan seorang pejabat Israel bahwa Washington telah memberi tahu Tel Aviv tentang sikap Riyadh bahwa sifat “ekstremis” dari rezim pendudukan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu “menghalangi segala kemungkinan pemulihan hubungan Israel dengan Saudi.”
Disebutkan bahwa para pejabat Israel “bingung” atas keputusan tersebut, mengingat bahwa mereka selama ini yakin Saudi akan terus melakukan normalisasi hubungan dengan Israel tanpa menghubungkannya dengan masalah Palestina.
Laporan itu juga menyatakan bahwa nyali Saudi menciut setelah Netanyahu menerima tuntutan menteri Israel yang keras kepala, Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich, untuk tidak memberikan konsesi apa pun kepada Palestina, dan karena itu, tanpa pemulihan hubungan dengan Palestina, tidak akan ada kemajuan dengan Arab Saudi.
Presiden AS Joe Biden pada tanggal 28 Juli menyatakan bahwa kesepakatan antara Israel dan Arab Saudi untuk menormalisasi hubungan mungkin akan segera tercapai setelah Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan mengadakan pembicaraan dengan para pejabat Saudi di Jeddah.
Untuk menandatangani perjanjian dengan Israel, Riyadh secara terbuka meminta Tel Aviv untuk melaksanakan apa yang disebut Inisiatif Perdamaian Arab tahun 2002, yang menuntut pendirian negara Palestina terlebih dahulu.
Namun, anggota rezim sayap kanan Israel, yang dipimpin oleh Netanyahu, mengatakan mereka tidak akan memberikan konsesi apa pun kepada Palestina sebagai bagian dari kemungkinan kesepakatan normalisasi hubungan dengan Arab Saudi.
Pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken mengatakan bahwa Arab Saudi telah memberi tahu pemerintahan Biden bahwa penyelesaian masalah Palestina sangat penting untuk setiap kesepakatan normalisasi dengan rezim Israel.
Selain itu, menurut para pejabat AS, Saudi secara pribadi meminta AS untuk menjamin keamanan kerajaan Saudi jika terjadi serangan, dan memberikan akses terhadap teknologi nuklir sipil, serta sistem senjata AS yang lebih canggih.
Upaya Washington untuk menambahkan Arab Saudi ke dalam daftar negara-negara Arab yang telah menandatangani Perjanjian Abraham terjadi pada saat yang kritis ketika Biden berupaya untuk dipilih kembali, dan pemerintah AS merasa malu dengan semakin kuatnya hubungan Saudi dengan Iran dan Suriah, dan ketertarikannya lebih jauh terhadap China.
UEA, Bahrain, Sudan, dan Maroko telah menandatangani perjanjian normalisasi dengan Israel yang ditengahi AS pada tahun 2020, dan hal ini memicu kecaman dari pihak Palestina, yang menganggap perjanjian tersebut sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan bangsa Palestina. (mm/mna)
Baca juga: