Teheran, LiputanIslam.com – Sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Saudi menyebutkan bahwa Putra Mahkota negara ini, Mohamed bin Salman dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menegaskan bahwa Saudi tidak akan mengizinkan zona udaranya digunakan oleh pihak asing untuk menyerang Iran.
“Kerajaan (Saudi) menghormati kedaulatan Republik Islam Iran, dan bahwa Kerajaan tidak akan mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk aksi militer apa pun terhadap Republik Islam Iran, atau serangan apa pun dari pihak mana pun,” bunyi pernyataan tersebut, yang dirilis pada hari Selasa (27/1).
Dalam percakapan itu Presiden Iran dan Putra Mahkota Saudi membahas ancaman AS, keamanan regional, dan hubungan bilateral.
Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Kepresidenan Iran pada hari Selasa, Pezeshkian melakukan percakapan telepon dengan Putra Mahkota Saudi.
Pezeshkian menyatakan bahwa kelompok-kelompok tertentu yang didukung oleh AS dan Israel telah beraksi membunuh sejumlah besar warga sipil dan personel keamanan, serta menimbulkan kerusakan parah pada fasilitas umum, pasar, dan tempat ibadah, dalam gelombang kerusuhan yang merenggut nyawa ribuan orang di Iran.
Pezshkian memastikan bahwa aksi tersebut bertujuan merongrong stabilitas Iran, namun gagal berkat respon rakyat negara ini dalam skala besar di seantero negeri.
Presiden Iran berterima kepada negara-negara Islam yang mendukung negaranya selama perkembangan terkini, khususnya Arab Saudi.
“Ancaman dan operasi psikologis Amerika bertujuan menggoyahkan kawasan, dan hanya akan menyebabkan instabilitas lebih lanjut. Saya percaya bahwa persatuan dan solidaritas negara-negara Islam sangat penting untuk menjamin keamanan, stabilitas, dan perdamaian yang permanan di kawasan sekitar. Karena itu, peran saudara-saudara kami yang mulia di negara-negara Islam dalam hal ini sangat penting,” tuturnya.
Pezeshkian juga menanggapi pernyataan negara-negara Barat yang menyeru Iran kembali ke meja perundingan.
“Kami sedang bernegosiasi dengan Amerika, yang melancarkan serangan militer terhadap kami di hadapan dunia. Kami mencapai kesepakatan dengan negara-negara Eropa, namun Amerika menyabotase kesepakatan tersebut. Dari perspektif mereka, negosiasi dan interaksi berarti ‘kami berkata, dan Anda melakukan,’ dan ini bukanlah dialog,” tegasnya.
Pezeshkian menegaskan bahwa dalam bingkai hukum internasional dan sambil menjunjung tinggi hak-hak nasionalnya, Iran terbuka terhadap inisiatif yang bertujuan untuk membangun perdamaian dan mencegah konflik.
Di pihak lain, Putra Mahkota Mohammed bin Salman mengatakan bahwa pencapaian stabilitas dan keamanan regional serta pembangunan bangsa-bangsa merupakan salah satu prioritas Kerajaan Arab Saudi. Dia juga menekankan pentingnya solidaritas dan persatuan di antara negara-negara Islam.
“Kami menganggap setiap agresi, ancaman, atau eskalasi terhadap Republik Islam Iran tidak dapat diterima, dan Kerajaan Arab Saudi siap untuk kerja sama komprehensif dengan Iran dan semua negara lain di kawasan ini untuk mencapai perdamaian dan keamanan yang permanen,” ungkapnya.
Sabtu lalu, media AS melaporkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln dan tiga kapal perusak yang menyertainya tiba di Samudra Hindia pada hari Jumat, dalam perjalanan menuju wilayah operasi Komando Pusat AS di Teluk Oman, di tengah ancaman AS terhadap Iran. (mm/alalam/raialyoum)