
Beirut, LiputanIslam.com – Tentara Arab Suriah (SAA) melancarkan “serangan balik” di Provinsi Hama di Suriah tengah, di mana mereka mampu mengusir kelompok-kelompok militan pemberontak dan teroris, sementara bala bantuan untuk SAA dilaporkan terus mengalir.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), Rabu (4/12), melaporkan bahwa kelompok teroris Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) dan faksi-faksi sekutunya gagal merebut Gunung Zain al-Abidin dekat kota Hama setelah pertempuran sengit dengan SAA, yang melancarkan serangan balik pada dini hari Rabu, dengan dukungan serangan udara. Menurut SOHR, SAA berhasil memukul mundur sekitar 10 kilometer dari kota Hama.
HTS alias kelompok teroris Jabhat Al-Nusra, yang notabene sempalan Al-Qaeda, dan faksi-faksi sekutunya memulai serangan besar-besaran pada tanggal 27 November, yang mengakibatkan Aleppo, kota terbesar kedua di Suriah, sepenuhnya lepas dari kendali SAA untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai di negara ini pada tahun 2011.
Selama serangan ini, faksi-faksi tersebut juga mampu menguasai desa-desa dan kota-kota di provinsi Hama dan Idlib (barat laut).
SOHR melaporkan pada hari Selasa bahwa faksi oposisi sempat mendekati kota Hama.
Sementara itu, kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan, “Satuan-satuan SAA terus melanjutkan operasi mereka terhadap berbagai posisi dan poros pergerakan organisasi-organisasi teroris di pedesaan utara Hama.”
SANA menjelaskan bahwa SAA “terlibat pertempuran sengit menggunakan berbagai jenis senjata melawan organisasi-organisasi teroris di timur laut kota Hama dan pedesaan barat laut kota ini”, dan bahwa ada banyak korban tewas dan luka di pihak kawanan bersenjata.
Komunikasi Iran, Turki dan Rusia
Pemerintah Moskow, sekutu Presiden Bashar al-Assad, menyatakan bahwa para menteri luar negeri Rusia, Iran, dan Turki sedang melakukan “komunikasi yang erat” untuk mencapai stabilitas di Suriah terkait dengan serangan dari kelompok-kelompok militan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova pada hari Rabu menyatakan bahwa “menteri luar negeri dari tiga negara penjamin” proses Astana yang bertujuan menemukan solusi politik bagi konflik di Suriah, “Rusia, Iran, dan Turki menjalin kontak yang erat.”
Jumlah Korban
Serangan yang dilancarkan oleh HTS dan sekutunya pekan lalu adalah yang terbesar di Suriah dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut laporan SOHR pada hari Rabu, jumlah korban tewas akibat pertempuran ini mencapai 704 orang, yang terdiri atas termasuk 110 warga sipil, 361 militan, dan 233 anggota SAA dan sekutunya.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA) menyatakan bahwa pertempuran tersebut menyebabkan sekitar 50.000 orang mengungsi di wilayah Idlib dan Aleppo utara, lebih dari setengahnya adalah anak-anak.
OCHA pada hari Selasa lalu mengumumkan bahwa SAA, dengan dukungan Angkatan Udara Rusia, memusnahkan sedikitnya 100 teroris dan 12 tank di provinsi Aleppo, Hama, dan Idlib.
Al-Mayadeen pada hari Rabu melaporkan bahwa serangan balik SAA menewaskan tak kurang dari 300 militan, yang beberapa di antaranya warga negara asing, menjatuhkan 25 drone, dan memukul mundur militan sejauh 20 km dari kota Hamas.
Disebutkan bahwa kelompok-kelompok bersenjata berusaha mengitari kota Hama dan mencapai Gunung Zain al-Abidin di pinggiran kota, karena gunung itu merupakan daerah yang sangat tinggi dan menghadap Hama sehingga posisi mereka akan berada di atas angin jika dapat menguasainya.
Pasukan Pro-Iran Berdatangan
Poros Resistensi mulai mengirimkan pasukan ke garis depan pertempuran. Bala bantuan dari faksi-faksi poros telah tiba, dan masih akan menyusul bala bantuan lebih besar untuk memperkuat SAA di berbagai zona pertempuran.
Sumber-sumer lokal menyatakan bahwa kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran sudah tiga hari mengalir ke Suriah melalui kawasan Albukamal di perbatasan Irak-Suriah untuk mendukung SAA.
Disebutkan bahwa ada sekitar 50 unit mobil perhari bergerak menuju front-front pertempuran di Hama. Mereka terdiri atas ratusan pasukan Brigade Zainabiyun dan Fatimiyun serta anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.
Berbagai kelompok yang didukung Iran eksis di provinsi Deir Elzor di Suriah timur yang berbatasan dengan Irak.
Bersamaan dengan ini, bala bantuan militer Rusia juga tiba di pangkalan Hmeimim.
PBB: Awas Bahaya ISIS di Suriah
Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Geir Pedersen, memperingatkan bahwa situasi di Suriah “berbahaya dan terus berubah,” ada banyak wilayah yang berada di bawah kendali pihak-pihak non-negara, dan situasinya dapat menyebabkan kebangkitan ISIS.
Utusan PBB selama sesi Dewan Keamanan untuk membahas situasi di Suriah pada hari Selasa juga menyebutkan bahwa HTS dan faksi-faksi bersenjata lainnya telah membuat kemajuan dan telah mendekati kota Hama.
Utusan PBB menyerukan perlunya “mengurangi eskalasi untuk menghindari bahaya yang mengancam persatuan dan integritas wilayah Suriah,” dan mendesak pihak-pihak Suriah dan internasional untuk melakukan negosiasi untuk keluar dari krisis ini.
Pedersen menjelaskan bahwa dia akan kembali ke wilayah tersebut “segera” untuk mengadakan pembicaraan guna memajukan proses politik, dan menuntut agar pengurangan eskalasi membawa prospek politik yang kredibel bagi rakyat Suriah. (mm/raialyoum/almayadeen/aawsat)