AlQuds, LiputanIslam.com – Surat kabar The Jerusalem Post menyatakan bahwa serangan rudal amunisi klaster dari Yaman secara signifikan meningkatkan jangkauan ancaman, mempersulit intersepsi, dan mempersulit pemulihan pascabenturan.
Dikutip laman berita al-Alam yang berbasis di Iran, Selasa (26/8), surat kabar Israel tersebut melaporkan bahwa penggunaan rudal balistik klaster oleh Yaman terhadap Israel merupakan perkembangan yang signifikan dan mengkhawatirkan, karena membuat sistem pertahanan rudal konvensional, termasuk Arrow atau David’s Sling, kurang efektif karena tidak dilengkapi untuk mencegat bom yang tersebar.
Menurut surat kabar tersebut, kegagalan pertahanan udara Israel untuk mencegat rudal Yaman menimbulkan pertanyaan kritis tentang keterbatasan jaringan pertahanan udara multi-lapis tersebut.
Jumat lalu, pasukan rudal Angkatan Bersenjata Yaman melancarkan operasi militer terhadap Bandara Ben Gurion di wilayah pendudukan Jaffa (Tel Aviv) dengan menggunakan rudal balistik hipersonik Palestine 2 . Rudal tersebut berhasil menerobos sistem pencegat, dan operasi itu pun berhasil mencapai tujuannya.
Israel sedang menyelidiki mengapa pertahanan udaranya kesulitan mencegat rudal tersebut, dan apakah Yaman menggunakan amunisi tandan.
Israel juga melakukan serangan balik terhadap Yaman untuk yang ke-14 kalinya sejak serangan Badai al-Aqsa pada 7 Oktober 2023, dengan tujuan menghentikan dukungan Yaman kepada rakyat dan pejuang Gaza.
Operasi Yaman yang jauh menembus kedalaman wilayah Israel merupakan mimpi buruk terbesar bagi rezim Zionis ini, mengingat ketidakmampuannya menghentikan serangan itu di tengah pesatnya perkembangan kemampuan militer Yaman serta ancaman nyata mereka ke wilayah pendudukan Palestina.
Operasi militer Yaman terhadap Israel merupakan bagian dari upaya untuk mendukung perlawanan Palestina di Jalur Gaza. Angkatan Bersenjata Yaman berulang kali menegaskan bahwa operasi militernya tidak akan berhenti sampai agresi dan blokade Israel terhadap Jalur Gaza berhenti.
70 Warga Palestina Gugur di Gaza
Rumah sakit di Jalur Gaza melaporkan sekira 70 warga Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan, gugur syahid akibat serangan udara Israel di beberapa wilayah di Jalur Gaza.
Sumber rumah sakit Gaza merinci bahwa 30 warga terbunuh di Jalur Gaza utara, 20 di Jalur Gaza tengah, dan 20 lainnya di Jalur Gaza selatan.
Menurut pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina pada hari Selasa, jumlah korban gugur akibat agresi Israel telah meningkat menjadi 62.819 orang, sementara korban luka 158.629 orang sejak 7 Oktober 2023. (mm/alalam)