Ribuan Massa Memrotes Vonis Hukuman terhadap Wali Kota Istanbul

0
142

Istanbul, LiputanIslam.com   Ribuan orang di Istanbul, Turki, Kamis (15/12), memrotes hukuman dan larangan politik terhadap Wali Kota Ekrem Imamoglu, 52 tahun.

Sehari sebelumnya, Pengadilan Turki menjatuhkan vonis hukuman dua tahun tujuh bulan penjara terhadap Imamoglu, saingan berat Erdogan, dengan dakwaan telah menghina pejabat publik.

Hukuman dan larangan politik harus dikonfirmasi oleh pengadilan banding, dan Imamoglu akan terus menjabat sebagai wali kota Istanbul, kota terbesar di Turki dan berpenduduk 16 juta orang.

Putusan itu menuai kecaman luas di dalam dan luar negeri.

Di tengah gempita musik patriotik, massa pengunjuk rasa mengibarkan bendera Turki di depan gedung kota Istanbul. Spanduk potret besar pendiri Turki Mustafa Kemal Ataturk dipasang di gedung itu.

Imamoglu yang berusia 52 tahun dan para pemimpin enam partai oposisi Turki berjalan bahu-membahu melewati kerumunan pendukung pada hari Rabu.

Dalam orasinya di hadapan massa, Imamoglu menegaskan, “Saya sama sekali tidak takut dengan vonis tidak sah mereka. Saya tidak memiliki hakim untuk melindungi saya, tapi saya memiliki 16 juta warga Istanbul dan bangsa kami mendukung saya.”

Dia menyebut hukuman penjara itu sebagai hukuman terhadap kesuksesannya.

“Terkadang di negara kita, tidak ada kesuksesan yang luput dari hukuman. Saya melihat hukuman yang tidak berarti dan ilegal ini dikenakan pada saya sebagai hadiah atas kesuksesan saya,” ujarnya.

Imamoglu dihukum karena menghina pejabat publik dalam pidatonya setelah dia memenangkan pemilihan Istanbul pada 2019. Para kritikus mengatakan pengadilan Turki tunduk pada kehendak Erdogan, sementara pemerintah pusat mengatakan peradilan itu independen.

Kemlu AS mengatakan “sangat terganggu dan kecewa” dengan potensi pencopotan Imamoglu.

Jerman menyebutnya sebagai “pukulan berat bagi demokrasi”, sementara Prancis mendesak Turki untuk “membalik keterpurukannya dari supremasi hukum, demokrasi, dan penghormatan terhadap hak-hak dasar”.

Pemilihan presiden dan parlemen akan diadakan pada bulan Juni 2023, dan diperkirakan akan menjadi tantangan politik terbesar bagi Erdogan setelah dua dekade berkuasa, karena rakyat Turki mengalami kenaikan biaya hidup akibat anjloknya nilai mata uang Turki dan terjadinya lonjakan inflasi. (mm/aljazeera)

DISKUSI: