Quds, LiputanIslam.com – Hasil indeks global yang mengukur reputasi negara-negara untuk tahun 2025 mengungkapkan bahwa citra Israel telah merosot ke titik terendah secara global, menempati peringkat terakhir di antara 50 negara untuk tahun kedua berturut-turut, menurut media Israel.
Hal ini terungkap dalam laporan terbaru Indeks Reputasi Global – yang juga dikenal sebagai “Indeks Reputasi Nasional”- yang mengukur persepsi internasional terhadap negara-negara berdasarkan opini publik global, seperti dilaporkan oleh Jerusalem Post (JP) pada hari Kamis (26/12).
Dengan dukungan AS, Israel melancarkan perang genosida di Gaza pada 8 Oktober 2023, yang berlangsung selama dua tahun dan menjatuhkan korban gugur sekitar 71.000 warga Palestina dan korban lebih dari 171.000 orang, yang sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan.
Gencatan senjata antara Hamas dan Israel mulai berlaku pada 10 Oktober, tetapi Israel melanggarnya setiap hari, hingga mengakibatkan kematian 406 warga Palestina hingga Selasa (23/12).
Selama dua tahun terakhir, gelombang demonstrasi anti-Israel melanda berbagai negara dunia, yang beberapa di antaranya juga telah mengambil tindakan terhadap Tel Aviv, termasuk menghentikan ekspor senjata, yang menyebabkan apa yang disebut oleh politisi Israel sebagai “isolasi internasional.”
Menurut JP, laporan Indeks Global menunjukkan bahwa skor Israel telah turun sebesar 6,1 persen, penurunan terbesar sejak indeks tersebut pertama kali dibuat hampir 20 tahun yang lalu. Laporan tersebut tidak memberikan detail lebih lanjut tentang skor saat ini.
JP menyebutkan survei tersebut dilakukan antara Agustus dan September 2025, dengan sekitar 40.000 peserta dari 20 negara, yang mewakili sekitar 70 persen populasi dunia.
Disebutkan bahwa indeks yang disusun oleh perusahaan multinasional Ipsos (berkantor pusat di Paris) ini, “mengandalkan pengukuran persepsi daripada kinerja aktual, dan mencakup bidang pariwisata, budaya, pemerintahan, ekonomi, imigrasi, dan citra penduduk.”
Laporan indeks global mencatat bahwa “Israel berada di peringkat terbawah dalam sebagian besar kategori ini.”
Penurunan citra Israel yang paling signifikan tercatat di kalangan anak muda di negara-negara Barat, di mana Israel kini digambarkan oleh sebagian besar dari mereka sebagai “kolonial atau tidak sah, dengan perbedaan yang semakin kabur dalam kesadaran global antara kebijakan pemerintah Israel dan masyarakat Israel secara umum.”
JP menambahkan menurut laporan indeks tersebut, “penurunan citra internasional ini bertepatan dengan meningkatnya boikot dan protes di luar negeri, termasuk slogan-slogan yang diteriakkan selama demonstrasi pro-Palestina seperti ‘Bebaskan Palestina, Boikot Israel.”
JP memperingatkan, “kerusakan reputasi yang berkelanjutan dapat berdampak negatif pada ekonomi, pariwisata, dan investasi dalam jangka panjang.”
Ekonomi Israel terdampak oleh kampanye boikot populer global yang terkait dengan perang di Gaza. Boikot ini telah meluas dari jalanan ke pasar makanan dan barang konsumsi, mendorong banyak konsumen dan importir untuk menghindari berurusan dengan perusahaan Israel.
Menurut situs berita ekonomi Israel Wasla (publikasi swasta), 60.000 perusahaan Israel menutup operasinya pada tahun 2024. (mm/ry)