TelAviv, LiputanIslam.com – Puluhan anggota pasukan cadangan Brigade Pasukan Terjun Payung tentara Israel menolak istruksi untuk kesiapan operasi militer di kota Rafah di bagian selatan Jalur Gaza.
Saluran 12 Israel pada hari Ahad (28/4) melaporkan bahwa sekira 30 tentara dari kompi pasukan terjun payung cadangan yang tergabung dalam brigade pasukan terjun payung reguler telah menerima perintah untuk mempersiapkan operasi di Rafah, namun mereka menolak perintah untuk bersiap dan memberi tahu komandan mereka bahwa mereka tidak akan bergabung karena mereka “tidak lagi mampu bertempur”.
Menurut saluran tersebut, “komandan militer tidak bermaksud memaksa personel cadangan” untuk berpartisipasi dalam operasi tersebut, dan ketidakikutsertaan mereka “tidak akan menyebabkan kesenjangan operasional”. Disebutkan bahwa hal ini menandakan “kelelahan yang dialami pasukan cadangan setelah berbulan-bulan bertempur.”
Media Israel menyorot isu invasi tentara Israel ke Rafah, seiring dengan akselarasi peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah Tel Aviv menyetujui rencana Rafah untuk keempat kalinya setelah mengatasi keberatan AS.
Dalam sebuah laporan yang diterbitkan oleh Otoritas Penyiaran Negara pada hari Rabu lalu, dan rinciannya dilaporkan oleh saluran i24 News disebutkan bahwa Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel Herzi Halevy dan Kepala Shin Bet Ronen Bar bertemu pada Rabu pagi di Kairo, ibu kota Mesir, dengan Kepala Intelijen Mesir Abbas Kamel terkait dengan kesiapan tentara Israel untuk operasi militer darat di Rafah dan kekuatiran Mesir terhadap masuknya sejumlah besar pengungsi Palestina ke Sinai.
Dilaporkan bahwa tentara Israel sedang bersiap bekerja untuk mencegah keluarnya warga Gaza melalui poros Philadelphia.
Sebelumnya pada hari Minggu, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengancam Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan membubarkan pemerintah jika dia menyetujui proposal Mesir untuk mencapai kesepakatan pertukaran tahanan dengan Hamas dan menghentikan invasi Rafah di Jalur Gaza selatan.
Menanggapi Netanyahu, Smotrich mengatakan, “Menyetujui kesepakatan Mesir adalah penyerahan diri yang memalukan, dan memberikan kemenangan kepada Nazi dengan mengorbankan ratusan tentara heroik Israel yang tewas dalam pertempuran.”
Sehari sebelumnya Menteri Luar Negeri Israel Yisrael Katz mengatakan bahwa Tel Aviv akan menangguhkan operasi Rafah jika perjanjian pertukaran tawanan dicapai dengan Hamas, sementara pemimpin oposisi Israel Yair Lapid menyerukan agar kesepakatan itu diselesaikan.
Sementara itu, Ismail al-Sawabite, direktur jenderal kantor media pemerintah di Gaza, dalam wawancara dengan saluran Al-Alam milik Iran menyatakan bahwa jika Israel jadi menyerang Rafah maka jumlah korban gugur Palestina akibat invasi militer Israel berpotensi melejit secara dramatis hingga lebih dari 100,000 orang.
Menurutnya, sejauh ini, lebih dari 34 ribu warga Palestina gugur, lebih dari 77 ribu orang terluka, dan lebih dari 5000 warga Palestina ditangkap oleh pasukan Zionis.
Dia juga menyebutkan bahwa lebih dari 7.000 warga Palestina terjebak di bawah reruntuhan, lebih dari 370.000 unit perumahan hancur, dan 32 dari total 35 rumah sakit di Jalur Gaza telah berhenti beroperasi.
Pejabat Palestina ini juga mengatakan bahwa Israel telah mencegah masuknya 600.000 ton bantuan internasional ke Gaza. (mm/raialyoum/alalam)