Teheran, LiputanIslam.com – Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisimenyatakan bahwa seandainya dunia Islam kompak maka akan efektif mencegah Rezim Zionis Israel, yang didukung oleh sekutu Baratnya, melakukan kekejaman yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap bangsa Palestina di Jalur Gaza yang terblokade.
Presiden Raisi menyatakan demikian dalam pertemuan dengan Duta Besar Arab Saudi untuk Iran di Teheran, Abdullah bin Saud al-Anazi, saat menerima surat kepercayaannya pada hari Selasa (24/10).
Sembari menyinggung penindasan kaum Zionis terhadap rakyat Palestina selama 75 tahun, Presiden Iran menekankan bahwa ketidak kompakan negara-negara Islam telah memungkinkan Israel untuk terus-menerus melakukan pembunuhan dan agresi terhadap penduduk Palestina selama bertahun-tahun.
“Kekompakan sikap Dunia Islam, dengan cara yang lebih efektif, dapat mencegah penganiayaan dan agresi entitas Zionis dan pelanggaran yang dilakukan oleh pendukung Baratnya,” harapnya.
Dia menambahkan, “Kemampuan timbal balik antara negara-negara Islam adalah solusi terhadap banyak kebutuhan negara-negara ini, dan mereka hendaklah menghindari intervensi asing di kawasan, yang tidak hanya tidak menyelesaikan masalah apa pun, namun juga merupakan faktor yang memperburuk masalah.”
Iran gencar mengecam peran Amerika Serikat, yang telah memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah sejak dimulainya perang antara Israel dan Hamas.
Pada tanggal 12 Oktober, Raisi meminta “negara-negara Islam dan Arab untuk berkoordinasi satu sama lain” untuk “menghentikan kejahatan” Israel.
Pada tanggal 7 Oktober, para pejuang Hamas memasuki Israel dari Gaza dan melakukan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak berdirinya Negara Israel pada tahun 1948, hingga menewaskan lebih dari 1.400 orang di Israel.
Israel menanggapinya dengan pemboman udara dan artileri secara intensif di Gaza, yang menurut Kementerian Kesehatan Hamas di Jalur Gaza, sejauh ini telah menggugurkan 5.791 warga Palestina.
Pertukaran duta besar antara Arab Saudi dan Iran terjadi setelah pengumuman mendadak pada bulan Maret, yang disponsori oleh China, mengenai pemulihan hubungan antara Teheran dan Riyadh setelah terputus selama tujuh tahun. (mm/irna/raialyoum)
Baca juga: