Doha, LiputanIslam.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negara-negara Muslim besar, terutama Arab Saudi, memikul “tanggung jawab yang sangat berat” dalam situasi saat ini, dan menyatakan bahwa persatuan di antara negara-negara Islam akan efektif mencegah agresi Israel.
Pezeshkian menyatakan demikian dalam pertemuan dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) di sela-sela pertemuan puncak darurat para pemimpin negara-negara Islam dan Liga Arab yang telah berlangsung di Doha, Qatar, pada hari Senin (15/9).
Acara tersebut diadakan untuk membahas tanggapan resmi atas serangan Israel pada 9 September yang berupaya membunuh para pemimpin gerakan perlawanan Palestina, Hamas, di Doha.
Presiden Iran menekankan bahwa jika negara-negara Islam “bersatu”, rezim Israel “tidak akan berani menyerang atau menginvasi negara Muslim mana pun”. Dia menambahkan bahwa Arab Saudi dapat memainkan “peran penting dalam upaya persatuan negara-negara Islam”.
Di pihak lain, MBS menyatakan kegembiraannya atas semakin eratnya hubungan antara negara Islam besar seperti Iran, Arab Saudi, dan Turki.
Negara-negara Islam, ungkapnya, harus menjadi “lebih berdaya dalam jangka panjang” agar mereka dapat “mempertahankan kemerdekaan dan martabat mereka secara lebih efektif” di dunia Islam dan “mencegah agresi dan ekses rezim Zionis.”
Dia menekankan gawatnya situasi di Palestina dan kawasan sekiar. “Kawasan kita berada dalam situasi khusus, dan memperkuat kerja sama dan persatuan di antara kita, dan negara-negara Islam lainnya bukanlah sebuah pilihan, melainkan suatu keharusan,” ujarnya.
Dalam pertemuan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi, Pezeshkian menegaskan bahwa memperkuat “persatuan dan kohesi di antara negara-negara Islam” merupakan cara paling efektif untuk menghadapi pengulangan dan kelanjutan kejahatan Israel.
Di pihak lain, Presiden Mesir juga menekankan keharusan negara-negara Islam untuk lebih dekat satu sama lain dan “mengambil sikap yang bersatu dan praktis” terhadap eskalasi kejahatan Israel.
Dia juga menyatakan kegembiraannya atas tren peningkatan hubungan antara kedua negara, dengan menyatakan bahwa Iran dan Mesir memiliki kapasitas yang baik “untuk mengamankan kepentingan bersama serta kepentingan negara-negara lain di kawasan.”
Demikian pula, dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Pezeshkian menekankan bahwa satu-satunya cara untuk menghadapi “kejahatan biadab” Israel adalah “persatuan negara-negara Islam, mengambil sikap yang bersatu, dan mengambil tindakan praktis.”
Perdana Menteri Pakistan juga menyerukan “sikap yang kompak dan bersatu” terhadap kejahatan Israel, dan mendesak negara-negara Islam untuk mengambil tindakan “terkonsolidasi” guna mencegah agresi lebih lanjut.
Presiden Pezeshkian, dalam pertemuannya dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan bahwa tindakan Israel menunjukkan bahwa rezim fasis ini“tidak terikat oleh batasan apa pun.”
Dia mengaku prihatian karena negara-negara “yang mengklaim membela kebebasan dan HAM” bukan hanya berdiam diri terkait Gaza melainkan bahkan memberikan “dukungan militer dan hukum” kepada rezim Israel.
Dalam pertemuan terpisah dengan mitranya dari Tajikistan, Emomali Rahmon, Pezeshkian menegaskan kembali bahwa Israel, yang didukung oleh AS dan negara-negara Eropa, “tidak mengakui batasan atau batasan apa pun atas kejahatannya.”
Dia menambahkan bahwa hanya “persatuan dan kekompakan negara-negara Islam” yang dapat menghentikan “mesin pembunuh dan kejahatan rezim barbar ini.”
Presiden Rahmon juga mendukung pernyataan Pezeshkian tentang urgensi persatuan negara-negara Islam dalam upaya mencegah berlanjutnya kejahatan Israel. (mm/presstv)