NewYork, LiputanIslam.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pidatonya pada sidang ke-79 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, AS, mengatakan Israel yang kewalahan di Jalur Gaza tak tidak dapat memulihkan mitos bahwa rezim Zionis itu tak terkalahkan, dengan cara menebar brutalitas di Lebanon.
“Kebiadaban Israel yang gila di Lebanon harus dihentikan sebelum membakar kawasan dan dunia… Tentu saja, kejahatan membabi buta dan teroris beberapa hari terakhir dan agresi besar-besaran terhadap Lebanon yang telah menumpahkan darah ribuan orang tak berdosa tidak akan tetap tidak terbalaskan,” ungkapnya.
“Pemerintah yang menghalangi penghentian bencana mengerikan ini dan masih menyebut diri mereka pembela HAM, harus menanggung konsekuensi (dari kekejaman ini),” lanjutnya.
Dia juga mengatakan, “Khalayak dunia telah menyaksikan sifat rezim Israel selama setahun terakhir. Mereka telah melihat bagaimana para penguasa rezim tersebut melakukan kejahatan,” katanya.
Presiden Iran mengutuk Israel yang dia sebut menganggap “genosida, kejahatan perang, dan terorisme negara sebagai pertahanan yang sah, mengidentifikasi rumah sakit, taman kanak-kanak, dan sekolah sebagai target militer yang sah.”
Pezeshkian juga mengecam penjatuhan stigma “anti-Semit” terhadap orang-orang yang memprotes perang Israel di seluruh dunia. Dia memastikan Iran mendukung gerakan-gerakan protes anti-Israel di dunia.
Di bagian lain pidatonya, Pezeshkian membahas masalah hak Palestina untuk menentukan nasib sendiri, dan mengecam rezim Israel dan para pendukungnya karena mencoba mengidentifikasi warga Palestina, “yang bangkit setelah tujuh dekade pendudukan penghinaan, dan stigma teroris..”
“Satu-satunya cara untuk mengakhiri mimpi buruk ketidakamanan selama 70 tahun di Asia Barat (Timur Tengah) dan dunia ialah pemulihan hak-hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri,” katanya.
Untuk melaksanakan hak tersebut, semua penduduk Palestina saat ini dan sebelumnya harus ikut serta dalam referendum, yang akan menentukan masa depan mereka, kata Pezeshkian, mereflesikan usulan yang diajukan oleh Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei.
“Kami percaya bahwa melalui mekanisme tersebut, perdamaian yang berkelanjutan dapat dicapai. Hanya melalui cara ini umat Muslim, Yahudi, dan Kristen dapat hidup berdampingan di satu tanah yang sama di tengah ketenangan dan jauh dari rasisme dan apartheid,” pungkas Pezeshkian. (mm/ptv)