Washington, LiputanIslam.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan agresi Israel terhadap negaranya dapat berubah menjadi perang yang “meluas dan tak terkendali” di kawasan sekitar jika tidak ditanggapi.
Dalam pidatonya pada Forum Ekonomi Eurasia melalui tautan video pada hari Jumat (27/6), Pezeshkian mengatakan pasukan Iran selama agresi 12 hari telah secara “sah” membela negara, kedaulatan nasional, dan integritas teritorial sesuai dengan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Seperti dketahui, pada dini hari tanggal 13 Juni, Israel melancarkan agresi skala penuh terhadap Iran dengan menyerang berbagai lokasi militer dan nuklir hingga merenggut nyawa banyak komandan militer dan ilmuwan nuklir serta warga sipil.
Pada tanggal 22 Juni, AS melibatkan diri dengan mengebom tiga lokasi nuklir Iran sehingga melakukan pelanggaran berat terhadap Piagam PBB, hukum internasional, dan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Sehari kemudian, Iran membalas serangan itu dengan mengirim rentetan rudal ke pangkalan udara al-Udeid di Qatar.
Israel kemudian terpaksa secara sepihak mengumumkan gencatan senjata pada 24 Juni setelah babak belur dihajar 22 gelombang serangan rudal balistik Iran.
Pezeshkian mengatakan bahwa “agresi brutal” Israel terhadap Iran, termasuk fasilitas nuklirnya, terjadi di tengah pembicaraan tidak langsung antara Iran dan AS mengenai program nuklir sipil Iran.
“Serangan militer oleh AS dan rezim Zionis terhadap fasilitas nuklir damai Iran, yang berada di bawah pengawasan penuh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), merupakan pelanggaran berat terhadap semua aturan internasional,” tegasnya.
Presiden Iran mengatakan agresi tersebut juga menimbulkan “pukulan yang tidak dapat diperbaiki” terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) oleh anggota tetap Dewan Keamanan PBB.
Dia mendesak masyarakat internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB dan Badan Tenaga Atom Internasional, untuk mengambil sikap yang lebih bertanggung jawab dalam menghadapi para agresor dan penghasut perang.
Presiden Iran menekankan perlunya meninggalkan kebijakan peredaan dengan rezim Zionis terkait pelanggaran HAM yang sistematis dan berulang.
Dia mengatakan bahwa sesi Forum Ekonomi Eurasia merupakan kesempatan untuk mengutuk keras tindakan agresi dan ancaman tersebut terhadap kawasan dan seluruh dunia. (mm/presstv)