Doha, LiputanIslam.com – Petinggi Hamas, Musa Abu Marzouk, pada hari Jumat (10/10) mengatakan bahwa pertukaran tahanan dengan Israel mungkin akan dimulai Senin depan, sebagai bagian dari fase pertama perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku sore ini.
“Pertukaran tahanan mungkin akan dimulai Senin depan,” katanya dalam sebuah wawancara televisi, sembari memastikan Hamas tidak bermaksud melakukan selebrasi resmi atas pertukaran tahanan tersebut atau memiliterisasinya.
Perjanjian gencatan senjata antara Hamas dan Israel mulai berlaku pada hari Jumat pukul 12.00 siang, waktu Al-Quds (09.00 GMT), setelah pemerintah Israel menyetujui perjanjian tersebut pada dini hari.
Dokumen perjanjian, yang diterbitkan oleh Lembaga Penyiaran Israel (IBCC), menetapkan bahwa Hamas akan membebaskan tawanan Israel yang masih hidup dalam waktu 72 jam setelah Israel meratifikasi perjanjian tersebut.
Menurut dokumen tersebut, Hamas akan menyerahkan semua informasi yang dimilikinya mengenai tahanan Israel yang tewas kepada mekanisme bersama yang akan dibentuk dengan partisipasi Qatar, Mesir, Turki, dan Komite Palang Merah Internasional.
Tel Aviv memperkirakan terdapat 48 tahanan Israel di Gaza, 20 di antaranya masih hidup, sementara lebih dari 11.100 warga Palestina mendekam di penjara-penjaranya, terdera penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis, banyak di antaranya telah terbunuh, menurut laporan media dan kelompok-kelompok peduli HAM Palestina dan Israel.
Di sisi lain, Abu Marzouk menekankan bahwa Hamas memiliki banyak kartu negosiasi, dengan menyatakan bahwa “masalah tawanan merupakan salah satu dalih yang digunakan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membenarkan berlanjutnya perang di Gaza.”
Dia mengatakan bahwa Hamas bekerja sama dengan para mediator “untuk menyingkirkan hambatan dan membebaskan para pemimpin Palestina yang ditahan di penjara-penjara pendudukan”, dan bahwa “tentara Israel telah mundur ke garis kuning, namun masih menguasai 53 persen Jalur Gaza.”
“Garis penarikan yang dibuat oleh rezim pendudukan tidaklah tepat, dan dibuat secara acak. Di masa mendatang, kami tidak akan membiarkan pasukan pendudukan tetap berada di posisi yang dikuasainya saat ini,” katanya.
Di sisi lain, dia menyebutkan bahwa AS telah mengirimkan tentara untuk memantau gencatan senjata, namun dia juga menegaskan bahwa mereka “tidak akan ditempatkan di Gaza, melainkan di Israel”, dan bahwa “tahap selanjutnya menyangkut proyek nasional dan studi keberadaan pasukan penjaga perdamaian di Jalur Gaza dan Tepi Barat.” (mm/raialyoum)