Teheran, LiputanIslam.com – Pembicaraan tidak langsung antara Iran dan AS pada hari Sabtu (12/4) di Muscat, dengan mediasi Menteri Luar Negeri Oman, akan dilakukan dengan pertukaran teks tertulis.
Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi, sementara delegasi AS di pimpin oleh Utusan Khusus Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah, Steve Whittaker.
Negosiasi ini disebut oleh Jubir Kemenlu Iran Esmail Baghai sebagai tawaran menguntungkan dari Iran. Perwakilan AS menerima persyaratan Iran berupa tidak langsungnya pembicaraan, dan dijadikannya Oman sebagai tuan rumah.
Pembicaraan ini dijadwalkan akan dimulai pada Sabtu sore di Muscat dan dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman Badr Al-Busaid, dan dilakukan secara tidak langsung melalui pertukaran teks tertulis.
Dengan menerima perundingan tidak langsung dengan AS, Iran memberikan kesempatan diplomasi ini dengan tujuan memverifikasi maksud pihak AS, dan seperti dikatakan Araqchi sebelumnya, pertemuan ini merupakan kesempatan sekaligus ujian.
Model negosiasi tidak langsung di Oman pada hari Sabtu belum pernah terjadi sebelumnya, dan telah digunakan sebelumnya oleh AS pada beberapa masalah, yang contoh terbarunya adalah masalah Ukraina.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi sebelumnya di Washington Post menulis: “Melakukan negosiasi tidak langsung bukanlah taktik atau cerminan kecenderungan ideologis, melainkan pilihan strategis yang dibuat berdasarkan pengalaman. Kami menghadapi tembok besar ketidakpercayaan dan memiliki keraguan serius tentang ketulusan niat.”
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghai pada hari Jumat menyatakan; “Dengan itikad baik dan kewaspadaan penuh, kami memberikan kesempatan nyata bagi diplomasi. Amerika seharusnya menghargai keputusan ini, yang dibuat meskipun mereka melontarkan retorika permusuhan. Kami berencana untuk menilai niat dan keseriusan pihak lain pada hari Sabtu dan menyesuaikan langkah kami selanjutnya.” (mm/fna)