Sanaa, LiputanIslam.com – Ketegangan berlanjut di bagian timur Yaman, Selasa (9/10), di mana Dewan Transisi Selatan (STC) mengumumkan kendali penuhnya atas Provinsi al-Mahra dan memperluas pengaruhnya atas Wadi Hadramaut, sementara delegasi Saudi mengungkapkan kesepakatan awal untuk menetralisir ladang minyak, di tengah seruan internasional untuk de-eskalasi.
Eskalasi militer dimulai setelah STC mengumumkan pelaksanaan operasi militer yang disebut “Masa Depan yang Menjanjikan” pada Rabu pekan lalu, dan mereka berhasil merebut kendali atas sebagian besar wilayah Hadramaut, termasuk ladang minyak dan kota penting Sayun, yang memiliki bandara internasional.
Minggu lalu, pasukan STC menguasai sebagian besar al-Mahra, provinsi terbesar kedua di Yaman setelah Hadramaut, yang mencakup Bandara Internasional al-Ghaydah dan pelabuhan laut. Pengambilalihan ini terjadi setelah bentrokan terbatas dengan pasukan Wilayah Militer Pertama, yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, serta dengan pasukan “Aliansi Suku Hadramawt,” sebuah entitas suku lokal.
Kesepakatan Netralisasi Minyak
Dalam perkembangan terbaru, sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh otoritas lokal di Hadramaut pada hari Selasa melaporkan bahwa delegasi Saudi, yang dipimpin oleh Mayjen Dr. Mohammed bin Obaid Al-Qahtani, bertemu dengan para pemimpin suku dan tokoh penting dari Lembah dan Gurun Hadramaut.
Pernyataan tersebut mengutip Al-Qahtani yang mengatakan, “Pendirian Kerajaan (Saudi) tetap teguh mengenai Provinsi Hadramaut. Kerajaan mendukung pemberlakuan gencatan senjata dan penghentian permusuhan, penguatan keamanan dan stabilitas, dan menolak setiap upaya pemaksaan realitas baru dengan kekerasan atau menyeret provinsi ini ke dalam konflik baru.”
Dia menekankan sikap Riyadh yang terus menyerukan “penarikan semua pasukan STC dari Provinsi Hadramaut dan Al-Mahra, dengan Pasukan Perisai Tanah Air mengambil alih kendali lokasi dan kamp.”
Dia menyebutkan bahwa kesepakatan awal telah dicapai dengan otoritas lokal dan Aliansi Suku Hadramaut untuk memastikan kelancaran produksi minyak di PetroMasila, mencegah gangguan terhadap kepentingan penduduk, dan menjaga netralitas lokasi minyak dalam konflik.
Dia juga mengatakan bahwa netralisasi ladang minyak akan dicapai melalui “penarikan pasukan yang saat ini ditempatkan di PetroMasila dan penyerahan lokasi tersebut kepada pasukan Hadrami di bawah pengawasan langsung otoritas lokal, sehingga menjamin normalisasi kehidupan.”
PetroMasila adalah perusahaan minyak nasional Yaman yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi minyak di Hadramaut. Perusahaan ini juga mengoperasikan pembangkit listrik tenaga gas dengan kapasitas sekitar 75 megawatt. Perusahaan ini memproduksi sekitar 10.000 barel minyak per hari dan merupakan pilar utama produksi minyak negara.
Al-Qahtani menambahkan bahwa kunjungan delegasi Saudi menghasilkan kesepakatan tentang “serangkaian langkah komprehensif untuk mendukung keamanan, stabilitas, dan de-eskalasi dengan semua pihak, termasuk STC.”
“Koalisi Arab, yang dipimpin oleh Arab Saudi, sedang berupaya keras untuk mengakhiri krisis, menyelesaikan konflik, dan memulihkan keadaan normal,” pungkasnya. (mm/raialyoum)