Perjanjian Kemitraan 25 Tahun Iran dengan China Jadi Sorotan Dunia

0
348

Wahington, LiputanIslam.com –   Perjanjian kemitraan strategis komprehensif berjangka waktu 25 tahun yang ditandatangani oleh Iran dan China pada Maret 2021 mengundang perhatian internasional dan liputan media yang luas.

Sejak dikenai sanksi lagi oleh Amerika Serikat (AS), Iran berusaha meningkatkan kekuatan ekonominya dengan memperluas hubungan dengan negara-negara Asia dan berupaya mandiri dalam berbagai sektor utama.

Di bawah strategi itu, pada Maret 2021 Iran dan China menandatangani perjanjian kemitraan untuk memperkuat aliansi ekonomi dan politik yang sudah berlangsung lama.

Perjanjian itu secara resmi mendokumentasikan Kemitraan Strategis Komprehensif Sino-Iran yang telah diumumkan dalam  kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Teheran pada tahun 2016.

Kesepakatan itu menetapkan garis besar kerjasama kedua negara di bidang-bidang politik, budaya, keamanan, pertahanan, regional, dan internasional untuk 25 tahun ke depan. Kesepakatan itu juga membuka jalan bagi partisipasi Iran dalam Belt and Road Initiative, sebuah proyek infrastruktur ambisius yang membentang dari Asia Timur hingga Eropa.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian, Sabtu (15/1), mengatakan bahwa perjanjian kemitraan itu akan “win-win” bagi kedua negara karena melayani kepentingan kedua belah pihak.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada Kamis pekan lalu majalah terkemuka AS Foreign Policy (FP) menilai perkembangan hubungan Iran-China  mengusik AS dan mengamankan akses China ke minyak Iran dan komoditas penting lainnya.

“Iran akan mendapatkan miliaran dolar dalam investasi energi dan infrastruktur China, mengurangi efektivitas sanksi AS” tulis FP.

Disebutkan bahwa sebagian besar kerja sama Beijing dan Teheran berfokus pada hubungan ekonomi dan diplomatik, dab bahwa investasi China akan memberikan stimulus ekonomi dan pendapatan bagi Iran sehingga semakin menyurutkan efektivitas sanksi AS terhadap Iran.

Lembaga The Center for Strategic and International Studies di Washington dalam artikelnya yang diterbitkan pada 29 Maret 2021 menyebutkan;  “China mungkin telah membuat keuntungan strategis baru yang besar dalam Teluk Persia, dan salah satu yang memberikan pengaruh besar di kawasan MENA (Timteng dan Afrika Utara) serta pengaruh baru yang besar dalam bersaing dengan AS.” (mm/mna)

DISKUSI: