Teheran, LiputanIslam.com – Rakyat Iran memperingati HUT ke-47 revolusi Islam dengan demonstrasi nasional yang diikuti jutaan orang, mengirimkan pesan kuat loyalitas mereka kepada cita-cita pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini, yang telah menggulingkan monarki yang didukung AS pada tahun 1979.
Lautan massa pada hari Rabu (11/2)membanjiri alun-alun utama Teheran dan ruang publik di sekitar 1.400 kota dan desa di tengah suhu dingin, hujan, dan salju dalam sebuah demonstrasi persatuan nasional di tengah provokasi dan ancaman oleh AS dan Israel dalam beberapa minggu terakhir.
Para peserta di Teheran berkumpul mulai pukul 09.30 waktu setempat dan menuju ke Bundaran Azadi yang ikonik tempat Presiden Masoud Pezeshkian berpidato di hadapan jutaan peserta pawai dan rapat akbar.
Massa meneriakkan slogan-slogan kutukan terhadap kejahatan yang dilakukan AS selama beberapa dekade terhadap bangsa Iran, serta kekejaman rezim Israel di tanah Palestina dan sekitarnya.
Mereka juga membawa poster-poster para martir perang Irak selama delapan tahun terhadap Iran pada tahun 1980-an, perang AS dan Israel terhadap Iran selama 12 hari pada Juni 2025, dan kerusuhan yang didalangi asing beberapa waktu lalu, serta para martir lain yang kehilangan nyawa mereka dalam menjalankan tugas.
Sekitar 7.200 jurnalis domestik dan hampir 200 perwakilan media asing meliput pawai dan rapat akbar tersebut, mendokumentasikan partisipasi publik dan upacara terkait serta melawan narasi media Barat yang meremehkan ataupun mendistori pemberitaan mengenai aksi nasional tersebut.
Beberapa rudal jelajah — termasuk Soumar, Noor, dan Qadir — serta rudal balistik seperti Zolfaghar, Haj Qassem, dan Emad, dipamerkan di Lapangan Azadi.
Selain rudal-rudal tersebut, serpihan beberapa drone Israel yang konon telah ditembak jatuh selama perang 12 hari pada bulan Juni juga diperlihatkan kepada para peserta di Lapangan Azadi.
Presiden Masoud Pezeshkian juga menghadiri pertemuan para demonstran di Teheran dan menyampaikan pidato kepada para peserta di Teheran dalam beberapa jam berikutnya.
Massa pawai akbar dalam sebuah resolusi menyatakan bahwa kehadiran mereka yang besar dan menyatukan mewakili “manifestasi nyata kematangan politik bangsa Iran, kohesi nasional, dan kewaspadaan historis” dalam menghadapi plot yang kompleks, tekanan yang meningkat, dan perang hibrida yang komprehensif oleh musuh-musuh Revolusi Islam, khususnya AS, Israel, dan sekutu mereka.
Pernyataan itu mengatakan bahwa serangkaian peristiwa yang terjadi belakangan, termasuk agresi terbuka dan perang 12 hari terhadap Iran dan Poros Perlawanan, serta kerusuhan dan aksi teror para antek AS-Zionis, telah mengungkap permusuhan dan kekerasan musuh sekaligus menunjukkan kepada dunia ketahanan Iran dan sekutunya.
“Dengan pemahaman mendalam tentang perang hibrida, kognitif, dan media musuh, dan dengan pengalaman langsung dari perang 12 hari yang dipaksakan, kami menekankan perlunya menjaga persatuan suci, solidaritas sosial, memperkuat modal sosial, dan menghindari perpecahan atau polarisasi apa pun,” bunyi resolusi tersebut.
Resolusi itu menambahkan bahwa kohesi nasional dan ikatan erat antara rakyat dan sistem Islam merupakan dukungan terpenting negara dalam menghadapi ancaman internal dan eksternal.
Pawai akbar tersebut memperingati revolusi penggulingan diktator dinasti Pahlevi, yang menjadi antek AS, pada musim dingin tahun 1979.
Imam Khomeini kembali dari pengasingan pada 1 Februari 1979, menerima sambutan luar biasa dari rakyat beberapa minggu setelah kepergian Shah pada pertengahan Januari.
Kejatuhan rezim Pahlavi dipastikan pada 11 Februari 1979, ketika militer meninggalkan kesetiaannya kepada Shah dan memilih berpihak dengan revolusi rakyat. (mm/presstv)