Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem memastikan kelompok pejuang yang berbasis di Lebanon ini memiliki puluhan ribu pejuang terlatih untuk menghadapi Israel. Dia juga menegaskan bahwa penghentian “agresi” Israel tidaklah bergantung pada hasil pilpres AS.
Media Hizbullah pada hari Rabu (6/11) menyiarkan rekaman video pernyataan Syeikh Qassem pada peringatan 40 hari kesyahidan pendahulunya, Sayid Hassan Nasrallah, yang gugur akibat serangan Israel di pinggiran selatan Beirut.
“Kami memiliki puluhan ribu mujahidin perlawanan, yang terlatih, berkemampuan tempur dan teguh,” tegas Syeikh Qassem.
Dia menambahkan, “Fasilitas tersedia, baik di arsenal maupun di berbagai posisi, dengan berbagai jalur. Israel akan menjerit akibat rudal dan drone. Pada gilirannya, tak ada tempat di entitas Israel yang ‘terlarang’ bagi drone maupun rudal (Hizbullah).”
Pidato Qassem disampaikan beberapa jam setelah Hizbullah mengaku telah menggempur pangkalan pelatihan militer di dekat Bandara Ben Gurion, selatan Tel Aviv, dengan rudal, untuk pertama kalinya.
Syeikh Qassem mengatakan bahwa jika Israel “bertaruh bahwa mereka akan memperpanjang perang, dan ini akan menjadi perang yang menguras tenaga… maka kami hadir,” dan “tidak peduli berapa lama waktu berlalu, kami akan tetap solid menghadapi kalian.”
Sejak tanggal 23 September, Israel memulai kampanye serangan udara yang terfokus pada kubu partai tersebut di pinggiran selatan Beirut dan di Lebanon selatan dan timur. Pada tanggal 30 September Israel mengumumkan dimulainya serangan darat “terbatas” ke Lebanon selatan, dimana pasukan Zionis kemudian terlibat pertempuran dengan Hizbullah.
Syeikh Qassem menegaskan bahwa penghentian agresi Israel tidak bergantung pada hasil pemilihan presiden AS yang mengarah pada mediasi untuk pencapaian gencatan senjata. Menurutnya, kondisi lapangan di perbatasan serta front internal Israel-lah yang akan menghentikan agresi pasukan Zionis.
“Kami tidak akan mendasarkan harapan untuk menghentikan agresi pada gerakan politik, kami juga tidak akan memohon untuk menghentikan agresi, kami juga tidak akan mendasarkannya pada pilpres AS, terserah apakah (Kamala) Harris berhasil atau ( Donald) Trump berhasil. Kami akan mengandalkan lapangan,” ungkapnya.
Dia menekankan bahwa “batas” dari setiap negosiasi dengan Israel adalah “perlindungan atas kedaulatan Lebanon secara penuh tanpa terkurangi.” (mm/alalam/raialyoum)