Washington, LiputanIslam.com – Donald Trump di usia 78 tahun resmi menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) setelah mengangkat sumpah di Gedung Capitol, Washington DC, Senin (20/1). Beberapa saat sebelumnya, James David Vance lebih dahulu dilantik sebagai Wakil Presiden ke-50 AS.
Upacara pelantikan Trump digelar di ruang tertutup di Ruangan Rotunda, Gedung Capitol, karena cuaca sangat dingin menyelimuti ibu kota Washington DC.
“Masa keemasan Amerika akan dimulai saat ini,” sumbar Trump dalam pidatonya berdurasi sekitar 26 menit.
Dilaporkan bahwa Trump telah mengundang para pemimpin warga Muslim, Kristen dan Yahudi untuk menghadiri acara pelantikannya.
Sebelum ini, tidak ada kewajiban eksplisit untuk mengundang para pemuka umat beragama ke upacara pelatikan presiden. Presiden hanya diharuskan mengangkat sumpah di atas Alkitab, sebuah tradisi yang dimulai oleh Presiden George Washington pada pelantikan pertama pada tahun 1789.
Namun demikian, pemimpin Muslim Syiah di AS, Syeikh Hisyam Al-Husseini, tidak memenuhi undangan tersebut, meskipun namanya tercantum dalam daftar tamu dan dijadwalkan berpidato pada pelantikan.
Gedung Putih tidak menjelaskan alasan ketidakhadirannya direktur Pusat Studi Islam Karbala di Dearborn, Michigan, AS tersebut. Namun para pegiat di platform X mengatakan bahwa Al-Husseini batal hadir karena “menolak menyebut Hizbullah Lebanon sebagai organisasi teroris pada tahun 2007.”
Al-Husseini seharusnya menjadi pemimpin Muslim pertama yang menyampaikan pidato pada pelantikan presiden AS, menurut Washington Times, sebelum ia mengundurkan diri tanpa memberikan alasan.
Al-Husseini juga mengecam Biden karena “tidak menghentikan pertumpahan darah di Gaza, Lebanon, dan Yaman,” dan mengatakan bahwa keputusannya untuk mendukung Trump “tidak hanya politis tetapi juga pribadi,” menurut surat kabar Amerika tersebut.
Pengguna media sosial menyebarkan rekaman wawancara dengan Al-Husseini pada tahun 2007, di mana ia menolak untuk menyebut Hizbullah Lebanon sebagai “organisasi teroris.”
Di sisi lain, Trump menuai kontroversi atas sumpah jabatannya di mana dia mengangkat tangan kanannya, namun tanpa meletakkan tangan kirinya di atas Alkitab yang dipegang istrinya, Melania, di sampingnya.
Ada perdebatan di kalangan warga Amerika tentang mengapa hal ini terjadi, apakah hal itu membatalkan sumpahnya, dan apakah tindakan itu disengaja, tapi para ahli hukum mengatakan hal itu tidak membatalkan sumpahnya.
Sementara itu, Trump pada hari Senin mengisyaratkan bahwa Arab Saudi akan menormalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel melalui perjanjian-perjanjian Abraham.
“Saya kira, Saudi pada akhirnya akan bergabung dengan kesepakatan Abraham,” ujarnya dalam pernyataan persnya saat kembali ke Ruang Oval, kantor presiden AS di Gedung Putih. (mm/bbcarabic)