Beirut, LiputanIslam.com – Pemimpin Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dalam pidatonya disampaikan untuk prosesi pemakaman Fuad Shukr, komandan senior Hizbullah yang gugur diserang Israel di Beirut, mengatakan perang Hizbullah dengan Israel telah “memasuki fase baru” .
Dalam pidato pada hari Kamis (1/8) itu Sayid Nasrallah menyebutkan pihaknya sedang mempertimbangkan tanggapan yang “nyata dan telah dipelajari” terhadap serangan itu, dan beberapa negara telah mendesak Hizbullah agar tidak melakukan aksi pembalasan.
“Tidak ada perdebatan mengenai hal ini. Satu-satunya hal yang ada di antara kami dan Anda adalah siang, malam, dan medan perang,” tambah Nasrallah dalam pidatonya di Israel.
“Saya tidak mengatakan kami berhak memberikan tanggapan pada waktu dan tempat yang tepat. Sama sekali tidak. Kami akan merespon. Itu sudah final,” tegasnya.
Menurutnya, Israel telah “melampaui garis merah” dan tanggapan terhadapnya “tidak dapat dihindari”. Dia menyatakan eskalasi regional akan bergantung pada tanggapan Israel terhadap pembalasan yang akan datang.
Sayid Nasrallah juga menegaskan Iran tidak akan tinggal diam pasca pembunuhan kepala biro politik gerakan perlawanan Hamas, Ismail Haniyeh, di Teheran.
“Iran menganggap kedaulatan, citra, dan kehormatannya telah dilanggar, karena Haniyeh adalah tamunya. Saya katakan kepada orang-orang Israel bahwa mereka bisa tertawa sedikit sekarang karena mereka akan banyak menangis di kemudian hari. Apakah mereka membayangkan bisa membunuh pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran dan masih berharap Iran diam saja?” ungkapnya.
Di pihak lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel sedang mempersiapkan diri menghadapi serangan balasan dari Iran dan sekutunya.
“Israel sangat siap menghadapi skenario apa pun, baik secara defensif maupun ofensif. Kami akan menanggung akibat yang sangat besar atas setiap tindakan agresi terhadap kami dari front mana pun,” kata Netanyahu.
Serangan yang menggugurkan Shukr terjadi di lingkungan Haret Hreik, daerah padat penduduk di pinggiran selatan Dahiyeh di Beirut pada hari Sabtu pekan lalu. Tiga wanita dan dua anak juga gugur dan puluhan lainnya luka-luka, menurut Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon.
Serangan ini disusul oleh serangan lain pada Rabu pagi di Teheran, yang menggugurkan Kepala Bbiro Politik Hamas Ismail Haniyeh. Peristiwa ini tak pelak memicu kekhawatiran akan adanya respon bersama antara Iran dan kelompok-kelompok bersenjata sekutunya dan kemungkinan pecahnya perang total.
Israel belum mengomentari insiden di Teheran dan tidak mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.
Sedangkan mengenai insiden di Beirut, militer Israel mengatakan “serangan presisi” yang menargetkan Shukr adalah respon terhadap serangan yang menewaskan 12 anak-anak dan pemuda yang bermain sepak bola di Majdal Shams di daerah pendudukan Dataran Tinggi Golan Suriah pada hari Sabtu.
Menurut militer Israel, Shukr mengawasi banyak serangan terhadap sasaran Israel dan bertanggung jawab atas serangan di Majdal Shams.
Hizbullah membantah bertanggung jawab atas insiden tersebut. Dalam pidatonya pada hari Kamis, Sayid Nasrallah menegaskan kembali bantahan tersebut dan mengatakan Hizbullah akan mengakui “kesalahan” jika sebuah roket salah sasaran.
Hizbullah mulai menyerang pangkalan militer di Israel utara sehari setelah pecahnya perang di Gaza pada tanggal 7 Oktober sebagai “front dukungan” untuk menyokong kelompok-kelompok pejuang Palestina.
Sejak itu, Hizbullah dan Israel hampir setiap hari terlibat pertempuran, namun kekerasan yang menyebabkan puluhan ribu orang di kedua negara mengungsi, sebagian besar masih terbatas di wilayah perbatasan.
Serangan mematikan Israel di Beirut pada hari Sabtu adalah serangan kedua di ibu kota Lebanon dan sekitarnya tahun ini. Pada bulan Januari, serangan udara Israel di Dahiyeh menewaskan pejabat Hamas Saleh al-Arouri.
Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami mengatakan kejahatan Israel belakangan memicu lebih banyak kemarahan di kalangan pejuang perlawanan untuk membalas dendam.
Salami menyatakan demikian dalam sebuah pesan pada hari Kamis untuk mengenang Milad Bidi, seorang penasihat militer Iran di Lebanon, yang gugur bersama komandan senior Hizbullah Fuad Shukr akibat serangan Israel.
Bersamaan dengan ini, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mohammad Baqeri menegaskan bahwa rezim Israel “pasti akan menyesali” pembunuhan pemimpin senior Hamas, Ismail Haniyeh. (mm/almayadeen/aljazeera/presstv)