Sanaa, LiputanIslam.com – Pemimpin gerakan Ansar Allah, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, menyebut pernyataan Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Benjamin Netanyahu mengenai proyek “Israel Raya” sebagai penghinaan dan serangan langsung terhadap bangsa-bangsa Arab.
Dia memperingatkan bahaya pelaksanaan proyek ini di hadapan “bangsa Arab yang terpecah belah dan tunduk,” dan bahwa beberapa negara bekerja sama secara ekonomi dengan rezim pendudukan, padahal yang lain memboikotnya.
Selain berbicara mengenai perkembangan situasi di Palestina, pemimpin Ansarullah juga menyorot perkembangan situasi politik dan militer di Lebanon di mana Hizbullah dan berbagai kelompok pejuang lainnya di negara ini mendapat tekanan agar meletakkan senjata dan menyerahkannya kepada pemerintah.
Dia menilai ketundukan beberapa pemerintah Arab kepada AS dan Israel mencerminkan kelemahan dan bahaya bagi rakyat mereka. Dia mengecam pengumuman pemerintah Lebanon tentang adopsi rencana AS, dan menyebutnya sebagai pengkhianatan dan pengabaian terhadap kedaulatan Lebanon.
Sayyid al-Houthi menekankan bahwa tujuan upaya AS melucuti senjata kubu perlawanan berbagai negara adalah untuk melayani rencana Zionis. Karena itu, dia memperingatkan agar tidak terjerumus ke dalam skema ini.
Dia juga menyebutkan bahwa serangan Israel terhadap Suriah terus berlanjut meskipun kelompok-kelompok pengendali berkomitmen untuk menyudahi seluruh kehadiran militer di Suriah selatan. Dia menjelaskan bahwa musuh sedang melakukan patroli militer, memasang blokade jalan, serta melakukan penggeledahan dan penggerebekan terhadap penduduk dan rumah mereka.
Sayyid al-Houthi mengumumkan bahwa Angkatan Bersenjata Yaman telah melancarkan beberapa operasi militer minggu ini ke berbagai lokasi Israel di Jaffa, Haifa, Ashkelon, Beersheba, dan Umm al-Rashrash, selain menyerang sebuah kapal di ujung utara Laut Merah karena itu kapal itu dinilai melanggar embargo yang diterapkan Yaman terhadap Israel.
Dia menegaskan bahwa operasi dukungan militer Yaman kepada Palestina, termasuk di jalur maritim terus berlanjut, karena dipastikan efektif dalam menanggapi agresi Israel dan mendukung perjuangan Palestina. (mm/raialyoum)