Sanaa, LiputanIslam.com – Pemimpin gerakan Ansarullah di Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, menegaskan pihaknya “serius” akan membidik setiap kehadiran Israel di wilayah Somalia yang memproklamirkan diri sebagai “Somaliland”.
Sayyid al-Houthi menegaskan hal itu dalam pidato yang disiarkan televisi momen haul pendiri Ansarullah, Sayyid Hussein Badreddin al-Houthi, pada Kamis malam (16/1).
Pada 26 Desember 2015 Rezim Zionis Israel mengumumkan pengakuannya atas kedaulatan Somaliland yang memproklamirkan diri sebagai negara merdeka dan berdaulat. Tindakan Israel itu menuai kecaman dari negara-negara Arab dan internasional.
Sayyid Al-Houthi menyatakan pihaknya “menegaskan kembali dukungan Yaman kepada rakyat Muslim Somalia,” dan menganggap perkembangan di kawasan sebagai “ancaman bagi Yaman dan rakyat di kawasan tersebut,” serta bahaya bagi Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.
Dia menambahkan, “Tindakan nyata diperlukan. Kami terus memantau dan serius untuk menargetkan setiap kehadiran Israel di Somalia, baik pangkalan militer maupun posisi tetap lainnya yang tersedia bagi kami, dan kami tidak akan ragu untuk menargetkannya secara militer.”
Menurutnya, Israel “berupaya mencapai tujuannya di Somalia” dengan memanfaatkan lokasi geografisnya yang menghadap Laut Merah, Teluk Aden, dan Selat Bab al-Mandab, dan menganggap hal ini sebagai “ancaman bagi kawasan ” dan upaya untuk mengendalikan jalur air.
Ansarullah menyebut kunjungan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar ke Somaliland dilakukan secara “rahasia” dan tanpa pengumuman sebelumnya.
Hingga Jumat malam, belum ada tanggapan dari Israel terhadap pernyataan Pemimpin Ansarullah.
Pada 6 Januari, Sa’ar tiba di Somaliland, menandai kunjungan pertama sejak Tel Aviv mengakui wilayah yang memisahkan diri tersebut.
Somaliland belum menerima pengakuan resmi sejak mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1991 dan bertindak sebagai entitas independen secara administratif, politik, dan dalam hal keamanan, sementara pemerintah pusat belum mampu menjalankan kendalinya atas wilayah tersebut.
Somalia sedang berjuang untuk pulih setelah puluhan tahun konflik, kekacauan, dan bencana alam, ditambah dengan tahun-tahun pertempuran melawan kelompok bersenjata yang terkait dengan al-Qaeda. (mm/raialyoum)