Teheran, LiputanIslam.com – Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayid Abdul Malik al-Houthi, mendesak Mesir berani bertindak tegas dan nyata terhadap “pelanggaran serius” yang dilakukan Israel pada Poros Philadelphia (garis perbatasan yang terletak antara Mesir dan Jalur Gaza). Dia juga menyayayangkan sikap banyak negara Islam terhadap Israel karena bahkan jauh tidak setegas sikap sebagian negara non-Muslim.
Dia menyebutkan bahwa seluruh khalayak dunia sedang dan terus menyaksikan kejahatan mengerikan dan disengaja Israel terhadap warga sipil yang terlantar di Rafah, dan menekankan bahwa angkatan bersenjata Yaman akan meningkatkan operasi mereka anti-Israel dan pendukungnya.
“Daerah yang menjadi sasaran di Rafah sebelumnya dinyatakan sebagai daerah aman oleh musuh, dan para pengungsi di sana ketika sedang tidur menjadi sasaran tujuh bom Amerika,” ungkapnya, Kamis (30/5).
“Semua kejahatan Israel dilakukan dengan bantuan bom dan perlindungan AS, yang mencegah adanya keputusan mengikat (dari PBB) untuk penghentian agresi terhadap Jalur Gaza,” imbuhnya.
Dia mengingatkan, “Mayoritas korban yang mengungsi adalah anak-anak dan perempuan, dan tubuh mereka terkoyak dan hangus akibat tembakan bom tersebut, dan kepala mereka terpisah dari tubuh mereka.”
Al-Houthi menyatakan bahwa beberapa rezim Arab yang setia kepada AS dan Israel berupaya mengaburkan kejahatan Israel, sebagaimana mereka berupaya untuk mengaburkan kejahatan mereka di kurikulum sekolah, media, dan lain-lain.
Dia juga menegaskan, “Praktik yang dilakukan oleh musuh, Israel, merupakan bagian integral dari identitas, pemikiran dan keyakinannya.”
Menurutnya, dengan terus menebar kejahatan, Israel mencoba menjinakkan masyarakat di dunia agar menerimanya dengan segala kejahatannya, atau menutup mata terhadap mereka, dan pandangan Israel terhadap seluruh masyarakat manusia adalah “pandangan yang menghina, merendahkan, dan penuh kebencian”.
Al-Houthi mengatakan bahwa aksi pasukan Zionis menduduki Poros Philadelphia (garis perbatasan yang terletak antara Mesir dan Jalur Gaza), dan serangan terhadap tentara Mesir, merupakan pelanggaran yang sangat serius dan ancaman bagi keamanan nasional Mesir.
Pemimpin Ansarullah menegaskan bahwa sudah seharusnya akan ada langkah-langkah berani dan kuat dari Mesir, meski berupa pemutusan hubungan ekonomi dengan Israel, toh kapal-kapal Mesir yang mengirimkan barang ke Israel masih dapat dialihkan ke banyak negara di dunia.
“Sangatlah memprihatinkan, sebagian negara Arab masih melanjutkan hubungan dengan musuh, Israel, padahal sebagian negara Barat telah mengambil sikap dan memutus hubungan dengan Israel, dan sikap mereka lebih tegas daripada sikap sebagian negara Islam dan Barat,” keluhnya.
Dia menambahkan, “Naifnya lagi, negara-negara Arab membuka zona udaranya untuk Isral sejak sekian tahun silam, dan di saat yang sama juga menutup zona udaranya demi melindungi Israel.” Pernyataan ini mengacu pada kabar bahwa sebagian negara Arab, termasuk Yordania dan Arab Saudi, turut berusaha menangkis badai serangan rudal dan drone Iran terhadap Israel beberapa waktu lalu.
Mengenai operasi militer Yaman anti-Israel dan para pendukungnya, terutama AS, Sayid Al-Houthi menjelaskan bahwa pada pekan ini telah ada 12 operasi serangan di Laut Merah, Laut Arab, Samudera Hindia dan Laut Mediterania. Dia lantas memastikan bahwa operasi militer pasukan Yaman akan terus berlanjut dan bereskalasi secara kuantitas maupun kualitas, dan “tak ada faktor apapun yang dapat mempengaruhi pendirian kami”.
Sayid Abdul Malik Al-Houthi memuji Hizbullah sebagai “front besar, penting, aktif, bergelora serta menyakitkan bagi musuh, Israel”.
“Dalam satu hari saja pada pekan ini, Israel memerlukan 14 tim pemadam kebakaran di wilayah pendudukan Galeele Atas,” ungkapnya.
Dia lantas mengecam negara-negara Arab dengan menegaskan, “Negara-negara Arab tak melakukan langkah apapun yang menunjang rakyat dan mujahidin Palestina, dan ini merupakan skandal, sangat memalukan, dan aib besar.” (mm/raialyoum/alalam)