Sanaa, LiputanIslam.com – Pemimpin Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul Malik Badruddin al-Houthi, mengatakan negaranya sepenuhnya siap untuk meningkatkan operasi militer jika Israel tidak mematuhi perjanjian gencatan senjata di Gaza.
“Kami akan tetap siap sepenuhnya untuk kembali beroperasi dan meningkatkan eskalasi jika musuh, Israel, melanjutkan agresinya dengan melakukan genosida, blokade, pemusnahan, dan pelaparan terhadap rakyat Palestina,” ujar Sayyid al-Houthi dalam pidatonya pada hari Selasa (21/10) berkenaan gugurnya Mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Yaman, Letjen Mohammad Abdulkarim.
Dia memastikan Yaman tidak bisa tinggal diam dalam situasi apa pun dan tidak akan berkompromi berkenaan dengan pendirian yang berprinsipkan kitab suci Al-Quran al-Karim.
Dia mengatakan bahwa jika gugurnya al-Ghamari menyebabkan kelemahan atau keruntuhan maka revolusi Yaman seharusnya sudah berakhir pada tahun 2004 dengan gugurnya pemimpinnya, Sayyid Hussein Badr al-Din al-Houthi.
“Namun, jalan itu terus berlanjut, tumbuh, dan menguat, membimbing bangsa yang hebat ini dalam identitas keimanannya sehingga berkah, suara, dan pengaruhnya menyebar secara global,” ujarnya.
Sayyid al-Houthi memastikan Yaman kini lebih kuat daripada sebelumnya dalam sejarahnya, dan negara ini menempati peringkat pertama di antara negara-negara Arab dalam manufaktur militer dan produksi masa perang.
Dia menjelaskan bahwa Angkatan Bersenjata Yaman telah secara bertahap membangun kapabilitas dan memperoleh pengalaman selama bertahun-tahun konflik dengan pasukan Saudi dan Israel.
Menurutnya, industri militer Yaman kini memproduksi beragam senjata, mulai dari pistol dan senapan hingga artileri, drone, dan roket, serta terus maju dalam teknologi rudal dan drone.
Dia juga mengatakan bahwa pencapaian Yaman terbukti jelas dalam pertempuran laut dengan AS, yang telah menderita kekalahan telak di laut, satu realitas yang bahkan diakui oleh para petinggi AS sendiri, dan terbukti dengan penarikan lima kapal induk.
Pemimpin Ansarullah menilai Israel, bersama Amerika dan Inggris, juga gagal dalam tujuan mereka karena mereka tidak mampu memusnahkan kemampuan rakyat Yaman atau memaksa mereka untuk meninggalkan pendirian prinsipal mereka.
Dia mengatakan bahwa musuh mengintensifkan upaya mereka untuk mengalihkan perhatian publik dari tujuan utama dan ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh Zionisme. (mm/presstv)