Nazaret, LiputanIslam.com – Hampir setahun setelah apa yang disebut gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, tampak bahwa Israel yang didukung AS hendak menghidupkan kembali front utara, dengan dalih bahwa tentara dan pemerintah Lebanon tidak mampu melucuti senjata Hizbullah. Menurut klaim Israel, Hizbullah terus mempersenjatai diri dan menyelundupkan peralatan, termasuk rudal, melalui perbatasan Suriah, dengan dukungan Iran.
Sumber-sumber keamanan dan politik Israel pada hari Rabu (3/12) mengungkapkan bahwa kepala intelijen militer Israel, Mayjen Shlomi Bender, memberikan informasi kepada Morgan Ortagus, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, dan Steve Wittkopf, Wakil Utusan Khusus Presiden AS, mengenai peningkatan kekuatan militer Hizbullah dan ketidakmampuan tentara Lebanon mengatasinya.
Dikutip surat kabar Israel Yediot Aharonot, sumber-sumber itu menambahkan bahwa di tengah ketegangan di perbatasan utara dengan Lebanon dan berakhirnya kunjungan Paus Leo XIV ke negara itu, Israel menilai bahwa tentara Lebanon tidak mampu dan tidak pula berminat melucuti senjata Hizbullah, mengingat bahwa, menurut klaim Israel, banyak anggota tentara Lebanon bermazhab Syiah.
Lebih lanjut, mereka menekankan bahwa informasi intelijen ini disampaikan dalam pertemuan antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menteri Pertahanan Israel Katz, dan utusan AS Ortagus di Kantor Perdana Menteri di kota Al-Quds (Yerusalem). Israel menjelaskan kepada Ortagus bahwa Hizbullah sedang menyelundupkan sejumlah rudal jarak pendek melintasi perbatasan dengan Suriah dan sedang membangun infrastruktur di utara Sungai Litani.
Sumber-sumber Israel menambahkan bahwa lebih dari setahun setelah gencatan senjata berlaku, Hizbullah mengerahkan para anggotanya ke desa-desa.
Yediot Aharonot menyebutkan bahwa, mengingat informasi yang sampai ke AS, seorang pejabat tinggi Israel mengatakan, “Hizbullah tidak melihat perlucutan senjata dalam perjanjian. Karena itu tidak ada gunanya melanjutkannya. Kami akan meningkatkan eskalasi, dan kami akan memutuskan kapan akan melakukannya sesuai dengan kepentingan kami.”
Yediot Aharonot juga mencatat bahwa pertemuan pada hari Rabu di kantor Perdana Menteri Israel tersebut diadakan di tengah-tengah pertemuan yang direncanakan pada hari di Naqoura, Lebanon selatan, mengenai mekanisme pemantauan gencatan senjata, yang melibatkan Prancis dan AS.
Sumber-sumber Israel mengklaim bahwa Washington sedang berupaya mencegah kegagalan total gencatan senjata. Gedung Putih menyatakan keprihatinan yang mendalam atas kegagalan perjanjian tersebut dan kelemahan pemerintah Beirut, yang tidak mampu memerintahkan tentara Lebanon untuk memaksa Hizbullah melucuti senjata, meskipun pemerintah telah memutuskan pada Agustus lalu untuk memusatkan persenjataan di tangan negara.
Di sisi lain, surat kabar itu menyatakan bahwa Hizbullah terus mempersenjatai diri dan pada saat yang sama menerima dana dari Iran, termasuk melalui Turki, dan Israel telah menyampaikan peringatan kepada Beirut melalui Ortagus yang akan berkunjung ke Lebanon bahwa jika pemerintah Lebanon tidak bertindak terhadap Hizbullah maka Israel akan terpaksa untuk bertindak sendiri. (mm/raialyoum)