Gaza, LiputanIslam.com – Kementerian Kesehatan di Gaza mengumumkan bahwa jumlah korban gugur akibat kelaparan dan malnutrisi telah meningkat menjadi 122, termasuk 83 anak-anak.
Dikutip Aljazeera pada hari Jumat (25/7), Kementerian itu mengumumkan bahwa rumah sakit di Jalur Gaza mencatat sembilan kematian baru akibat kelaparan dan malnutrisi dalam 24 jam terakhir.
Sebelumnya, sebuah sumber di Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza mengumumkan kematian seorang anak akibat kelaparan dan malnutrisi. Hal ini didahului oleh pengumuman rumah sakit tentang kematian dua warga Palestina, salah satunya menderita diabetes.
Kantor Media Pemerintah dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (24/7) mengumumkan bahwa kelaparan semakin parah di seluruh Jalur Gaza, dan bahwa sebanyak 116 warga Palestina telah meninggal dunia akibat kelaparan dan malnutrisi di tengah hampir tidak adanya makanan, air, dan obat-obatan. Kantor tersebut memperingatkan tentang apa yang dianggapnya sebagai laporan palsu tentang masuknya bantuan.
Kantor itu mendesak dunia untuk segera mencabut blokade di Gaza dan mengizinkan bantuan kemanusiaan, terutama susu bayi, masuk ke wilayah yang terkepung itu untuk sekitar dua setengah juta orang.
Amnesty International menyatakan bahwa Israel terus menggunakan praktik pelaparan sebagai taktik kotor perang dan alat untuk melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza.
Menurut lembaga ini, penderitaan warga Gaza yang kelaparan diperparah oleh sistem distribusi bantuan Israel, yang menggunakannya sebagai senjata perang yang menghancurkan. Israel sengaja membuat warga Palestina kelaparan.
Amnesty International menegaskan bahwa genosida di Jalur Gaza harus dihentikan sekarang juga, dan bahwa Israel harus segera mencabut pembatasan masuknya bantuan dan mengizinkan PBB untuk mendistribusikan bantuan.
Israel juga harus mengizinkan warga Palestina di Gaza mengakses bantuan tanpa batasan dan dengan cara yang aman. (mm/aljazeera)