Gaza, LiputanIslam.com – Pejuang gerakan perlawanan Islam, Hamas, di Jalur Gaza mengaku telah menyerang pusat komando Israel di bagian utara wilayah pesisir, dan membunuh tujuh tentara Zionis di tempat lain di seluruh wilayah Palestina.
Sayap militer Hamas, Brigade Ezzedine al-Qassam, mengumumkan serangan itu dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (9/3).
Serangan terhadap pusat komando itu dilancarkan dengan menggunakan drone untuk melepaskan dua roket anti-personil terhadap sasaran di lokasi yang terletak di sebelah timur kota Beit Hanoun. Al-Qassam juga menyatakan telah membunuh seorang perwira Israel di tempat lain dekat kota itu.
Menurut pernyataan terpisah, para pejuang di Gaza selatan menyerang dan membunuh enam tentara Israel yang berada di dalam sebuah rumah di utara Khan Younis.
Perkembangan ini terjadi di tengah perang genosida Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023 yang para pejuang Gaza melancarkan serangan fajar Badai al-Aqsa di wilayah-wilayah pendudukan.
Sekitar 600 tentara Israel tewas dalam operasi perlawanan para pejuang Gaza demi mempertahankan Gaza dan dalam menghadapi perang yang sejauh ini telah merenggut nyawa lebih dari 30.800 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Jumat lalu, Ynetnews, situs harian Israel Yediot Ahronot, melaporkan bahwa militer rezim tersebut menghadapi masalah sumber daya manusia yang kritis karena kekurangan ribuan pasukan.
“Tentara mengalami kekurangan personel yang semakin parah,” ungkap laporan itu, seraya menambahkan bahwa mereka “sangat membutuhkan tambahan 7.000 tentara, dan setengah dari jumlah tersebut ditujukan untuk peran tempur.”
Angka-angka yang “belum pernah terjadi sebelumnya “ ini menandai“kejutan” yang dialami militer Israel setelah perang selama lebih dari lima bulan, ungkap media Israel tersebut tersebut.
Akhir bulan lalu, Menteri Urusan Militer Israel menyoroti besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh perang terhadap militer rezim tersebut.
“Kami membayar harga yang sangat mahal dalam barisan kami… Kerugian yang kami keluarkan dalam hal jumlah kematian dan cedera sangat tinggi,” kata Yoav Gallant saat itu. (mm/aljazeera/presstv)