Gaza, LiputanIslam.com – Kubu pejuang perlawanan Palestina menyiarkan serangkaian pesan dalam upacara penyerahan jenazah sejumlah tawanan Israel di Khan Yunis, selatan Jalur Gaza, pada hari Kamis (20/2), termasuk pemajangan dua bom di panggung tempat peti mati diletakkan.
Dua bom itu dipajang dengan disertai tulisan “Dibunuh oleh Bom AS” dalam bahasa Inggris. Trevor Paul, mantan ahli amunisi tentara AS, mengatakan bahwa bom yang ditunjukkan oleh para pejuang Gaza itu adalah GBU-39 AS yang belum meledak.
Paul menambahkan bahwa jenis bom ini diproduksi secara eksklusif di AS. Pernyataan pakar tersebut konsisten dengan investigasi sebelumnya yang dipublikasikan oleh media massa AS, termasuk New York Times dan CNN, yang mengungkapkan bahwa tentara Israel menggunakan bom tersebut dalam penyerbuan yang mengakibatkan tewasnya puluhan orang di Rafah, dalam peristiwa yang dikenal sebagai “Pembantaian Khiam” pada bulan Mei 2024.
Investigasi sebelumnya oleh kantor berita Sanad mengungkapkan bahwa Israel menggunakan senjata yang sama terhadap Masjid Sekolah Al-Tabi’in, yang menampung ratusan orang mengungsi, pada bulan Agustus 2024, hingga menewaskan 100 orang dan melukai puluhan lainnya, menurut Pertahanan Sipil di Gaza.
AS pada awal bulan ini setuju untuk memasok kembali Israel dengan bom GBU-39 dalam kesepakatan senilai $6,75 miliar, menurut rincian kesepakatan yang dipublikasikan di situs web Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan AS, badan resmi yang bertanggung jawab atas penjualan senjata AS.
GBU-39 merupakan salah satu bom pintar paling berbahaya, karena merupakan amunisi berpemandu berukuran kecil (beratnya 110 kilogram) yang mampu mengenai sasarannya dengan sangat presisi, dengan margin kesalahan tidak lebih dari satu meter, bahkan dalam kondisi cuaca paling buruk sekalipun, menurut spesifikasi yang disebutkan di situs Angkatan Udara AS. (mm/raialyoum)