NewYork, LiputanIslam.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa Israel menggunakan “taktik perang yang mematikan” terhadap warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat sejak lebih dari seminggu setelah entitas pendudukan itu melancarkan agresi militer besar-besaran di wilayah tersebut hingga menewaskan puluhan orang.
Juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Stéphane Dujarric, pada konferensi pers di New York pada hari Selasa (4/9), mengatakan bahwa Israel melanjutkan agresinya di Tulkarm dan Jenin.
“PBB telah mencatat lebih dari dua lusin korban jiwa selama seminggu terakhir, termasuk anak-anak,” tutur Dujarric, sembari menyebutkan bahwa beberapa organisasi yang dimobilisasi oleh OCHA telah siap untuk melakukan penilaian di Jenin tetapi ditolak aksesnya oleh otoritas Israel.
“OCHA memperingatkan bahwa hambatan akses berdampak pada kemampuan untuk memberikan respon kemanusiaan yang berarti,” lanjutnya.
Dujarric mengatakan bahwa pergerakan ambulan dan tim medis terhambat dan tertunda sejak dimulainya agresi yang terjadi belakangan ini.
Pada dini hari tanggal 28 Agustus, militer Israel melakukan operasi terbesarnya – yang dijuluki “Kamp Musim Panas” – di Tepi Barat dalam lebih dari 20 tahun, dengan mengerahkan ratusan tentara dan serangan udara di Jenin, Tulkarm, dan Tubas, yang merupakan pusat utama perlawanan Palestina terhadap entitas pendudukan.
Agresi militer yang sedang berlangsung di Tepi Barat saat ini terkonsentrasi di kota Jenin, yang lebih dari 70 persen jalan-jalan dan infrastrukturnya telah rusak sejak dimulainya “Kamp Musim Panas”, menurut pemerintah kota ini.
Dujarric juga memperingatkan bahwa pasukan Israel terus menggunakan “taktik perang yang mematikan” di Tepi Barat, termasuk serangan udara, hingga mengakibatkan banyak orang terbunuh, terluka, dan mengungsi.
Saat berada di Tulkarem pada hari Sabtu, tim OCHA memverifikasi bahwa 120 warga Palestina, termasuk lebih dari 40 anak-anak, mengungsi karena rumah mereka hancur.
OCHA melaporkan, “Pada saat penilaian, 13.000 orang di kamp pengungsi Nour Shams mengalami pemutusan pasokan air, yang disebabkan oleh kerusakan yang terjadi pada jaringan air, dan luapan limbah terlihat. Tim juga mencatat bahwa penduduk tersebut mengalami trauma dan membutuhkan dukungan psikososial.”
Sejak dimulainya agresi saat ini di Tepi Barat, jumlah warga Palestina yang terbunuh oleh pasukan Israel telah meningkat menjadi 34 orang, termasuk 19 orang di Jenin, 8 orang di Tulkarm, 4 orang di Tubas, dan 3 orang di al-Khalil. Total korban gugur di Tepi Barat kini berjumlah 685 orang sejak 7 Oktober tahun lalu.
Eskalasi di Tepi Barat terjadi ketika rezim Israel sejak Oktober terus melakukan serangan biadab di Jalur Gaza hingga menggugurkan lebih dari 40.000 orang, yang sebagian besarnya adalah wanita dan anak-anak. (mm/aljazeera)