Sanaa, LiputanIslam.com – Angkatan Bersenjata Yaman kubu Ansarullah Yaman menegaskan akan kembali beraksi jika Israel kembali mengobarkan perang di Jalur Gaza.
Pasukan Yaman itu telah melancarkan kampanye militer menyerang kapal-kapal melalui koridor Laut Merah sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina di tengah perang Israel di Gaza. Mereka telah melancarkan berbagai serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah sejak akhir 2023, dan mengincar kapal-kapal yang mereka anggap terkait dengan Israel atau para pendukungnya.
Namun, dalam surat tanpa tanggal kepada sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam, yang baru-baru ini dipublikasikan secara daring, Ansarullah telah mengindikasikan pihaknya telah menghentikan serangan mereka, meskipun belum secara resmi mengumumkan penghentian serangan terhadap kapal-kapal di wilayah tersebut.
“Kami memantau perkembangan dengan cermat dan menyatakan bahwa jika musuh melanjutkan agresinya terhadap Gaza, kami akan kembali melakukan operasi militer jauh di dalam entitas Zionis (Israel), dan kami akan memberlakukan kembali larangan navigasi Israel di Laut Merah dan Laut Arab,” demikian bunyi surat dari Yusuf Hassan al-Madani, kepala staf Angkatan Bersenjata Yaman.
Gencatan senjata rapuh yang ditengahi AS mulai berlaku di Gaza pada 10 Oktober. Israel telah berulang kali melanggar kesepakatan tersebut hingga menggugurkan lebih dari 240 warga Palestina dalam serangan berkelanjutan di Gaza.
Perang Israel di Gaza telah menggugurkan sedikitnya 69.182 warga Palestina dan melukai lebih dari 170.700 orang sejak Oktober 2023. Sebanyak 1.139 orang tewas di Israel selama serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, dan sekitar 200 orang ditawan.
Kampanye maritim Ansarullah telah menewaskan sedikitnya sembilan pelaut dan menenggelamkan empat kapal.
Belakangan ini, otoritas Yaman menahan puluhan pegawai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah menggerebek fasilitas yang dikelola PBB di ibu kota Sanaa, PBB mengonfirmasi pada akhir Oktober. Ansarullah menuduh bahwa staf PBB yang ditahan itu melakukan aksi mata-mata untuk kepentingan Israel atau memiliki hubungan dengan serangan udara Israel yang menewaskan perdana menteri Yaman. PBB membantah keras tuduhan tersebut.
PBB mengatakan pada akhir Oktober bahwa total 36 pegawai PBB ditangkap setelah serangan Israel tersebut, dan setidaknya 59 personel PBB ditahan oleh kelompok tersebut.
Pada 31 Oktober, pejabat Ansarullah mengatakan otoritas Yaman akan mengadili puluhan staf PBB yang ditahan, dan mereka adalah warga Yaman sendiri, dan dapat dikenai hukuman mati berdasarkan hukum negara tersebut. (mm/aljazeera)