Gaza, LiputanIslam.com – Angkatan Laut (AL) Rezim Zionis Israel mencegat Global Flotilla Sumud (GSF)l, armada aktivis kemanusiaan dari berbagai negara dunia yang berupaya menembus blokade Israel terhadap Jalur Gaza.
Menurut pihak GSF, kapal patroli Israel mengepung armada tersebut dan mencegat setidaknya dua kapal di dekat Gaza.
Armada tersebut mengatakan kapal-kapalnya berjarak kurang dari 90 mil laut dari Gaza.
“Banyak kapal GSF, terutama Alma, Surius, Adara, dicegat dan dinaiki secara ilegal oleh Pasukan Pendudukan Israel di perairan internasional,” kata penyelenggara.
Kapal-kapal lain, termasuk Yulara dan Meteque, “telah menjadi sasaran meriam air,” lapor GSF.
“Serangan ilegal terhadap kapal-kapal kemanusiaan tak bersenjata ini merupakan kejahatan perang,” tambahnya.
GSF menjelaskan, “Sebelum menaiki kapal secara ilegal, tampaknya kapal-kapal AL Israel sengaja merusak komunikasi kapal, dalam upaya memblokir sinyal marabahaya dan menghentikan siaran langsung penyerbuan kapal ilegal mereka.”
GSF menyesalkan bahwa liputan siaran langsung dan komunikasi telah terputus dengan beberapa kapal lainnya.
Hal ini terjadi setelah Angkatan Laut Israel berulang kali memerintahkan GSF untuk dialihkan ke pelabuhan Ashdod di wilayah pendudukan Palestina 1948.
Armada tersebut menyatakan akan berupaya semaksimal mungkin untuk menyampaikan informasi tentang status kapal, penahanan, korban cedera, dan potensi korban jiwa.
Penyelenggara menyerukan kepada pemerintah, para pemimpin dunia, dan lembaga-lembaga internasional untuk menuntut keselamatan dan pembebasan semua orang di atas kapal serta terus memantau situasi dengan cermat.
GSF menegaskan bahwa mereka berada 70 mil laut dari wilayah Palestina, dan bahwa meskipun dicegat dan disabotase, kapal-kapal mereka “akan terus bergerak tanpa gentar.”
GSF terdiri dari lebih dari 50 kapal telah berangkat dari Barcelona akhir bulan lalu dengan misi menerobos apa yang telah dikecam oleh berbagai lembaga HAM sebagai salah satu blokade paling ketat dan paling tidak manusiawi di dunia.
GSF digambarkan sebagai misi maritim terbesar dalam beberapa dekade, dan membawa delegasi dari setidaknya 44 negara.
Dalam perjalanan mereka ke Gaza, para peserta melaporkan beberapa contoh eskalasi “berbahaya” oleh rezim, termasuk ledakan, serangan drone besar-besaran, dan gangguan komunikasi.
Mereka menggambarkan insiden tersebut sebagai pertanda agresi yang lebih kuat terhadap lebih dari 500 relawan sipil armada tersebut.
Para aktivis mengatakan bahwa serangan terhadap kapal-kapal GSF mencerminkan “seberapa jauh penjajah akan berusaha untuk membuat Gaza kelaparan.” (mm/presstv)