Dubai, LiputanIslam.com – Perusahaan keamanan maritim Inggris, Vanguard Tech, melaporkan bahwa kapal perang Iran mendekati sebuah kapal tanker minyak AS dan memerintahkannya untuk berhenti saat melintasi Selat Hormuz di wilayah Teluk, tetapi kapal tersebut terus berlayar dengan dikawal oleh kapal perang AS.
Perusahaan pada hari Selasa (3/2) tersebut menjelaskan bahwa enam kapal perang Iran mendekati kapal tanker minyak berbendera AS, Stena Imperative, di Selat Hormuz, sekitar 16 mil laut di utara Oman.
Disebutkan bahwa kapal tanker tersebut tidak memasuki perairan teritorial Iran, dan perusahaan itu menyebutkan bahwa kapal-kapal Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran “mengeluarkan panggilan ke kapal tanker itu melalui saluran komunikasi maritim dan memerintahkan kapten untuk mematikan mesin dan bersiap untuk inspeksi.”
Namun, kapal tanker tersebut “meningkatkan kecepatannya dan melanjutkan perjalanannya dan sedang dikawal oleh kapal perang AS.”
Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan terjadi insiden di Selat Hormuz, tanpa memberikan detail apa pun tentang kapal itu dan kapal-kapal yang mendekatinya.
Namun, Kantor Berita Fars membantah adanya “insiden keamanan.” Tanpa menyebutkan kepemilikan kapal tersebut, kantor berita Iran itu menyatakan bahwa kapal tersebut telah “secara ilegal” memasuki Selat Hormuz “di perairan internasional Iran.” Ditambahkan bahwa kapal tersebut “menerima peringatan dan segera meninggalkan perairan Iran.”
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengancam serangan militer yang telah diancam akan dibalas oleh Teheran.
Surat kabar konservatif Iran, Javan, pekan lalu melaporkan bahwa Republik Islam Iran “siap untuk respon skala besar” yang dapat mencakup Selat Hormuz.
Penembakan Drone
Juru bicara militer AS mengklaim bahwa sebuah jet tempur AS menembak jatuh sebuah drone siluman Iran yang mendekati kapal induk AS dengan cara “bermusuhan” saat berlayar di Laut Arab pada hari Selasa.
“Sebuah jet tempur F-35C dari USS Abraham Lincoln menembak jatuh drone Iran tersebut untuk membela diri dan melindungi kapal induk dan personelnya,” kata juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, dalam sebuah pernyataan.
Di pihak lain, Angkatan Bersenjata Iran menyatakan sebuah pesawat nirawak patroli dan pengawasan miliknya berhasil menyelesaikan misinya di perairan internasional.
Kantor Berita Fars pada hari Selasa melaporkan bahwa misi utama pesawat nirawak itu ialah memantau semua pergerakan militer di wilayah yang berbatasan dengan Iran, dan bahwa data dari pesawat ini dikirimkan dan diterima oleh pangkalan darat secara real-time.
Sebuah sumber yang mengetahui informasi tersebut kepada Kantor Berita Tasnim mengatakan bahwa pesawat tersebut adalah nirawak Shahed-129. Dia mengomentari laporan dari media berbahasa Inggris tentang pesawat AS yang menargetkan pesawat nirawak Iran di atas kapal induk USS Abraham Lincoln.
Pesawat nirawak Shahed-129 sedang melakukan misi rutin dan legalnya berupa pengintaian, pemantauan, dan pengambilan gambar di perairan internasional. Ini dianggap sebagai prosedur standar dan sah,” catat sumber tersebut.
Dia menambahkan bahwa pesawat nirawak tersebut berhasil mengirimkan rekaman pengawasan dan pengintaiannya ke pusat komando.
Namun, komunikasi kemudian terputus, tambahnya, seraya mengatakan bahwa penyebab terputusnya komunikasi tersebut saat ini sedang diselidiki, dan rincian lebih lanjut akan dirilis setelah selesai. (mm/ry/pt)