Amman, LiputanIslam.com – Pasca serangan Israel terhadap markas Hamas di Doha, Qatar, setiap kunjungan ke platform media sosial Yordania membuat pengamat berhenti sejenak menyorot pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para pakar militer, termasuk Nidal Abu Zeid, Muhammad Abu Nawar, dan lainnya.
Di grup WhatsApp, Khaled Al-Omari menyoal apa yang diharapkan oleh orang-orang Arab terkait pangkalan militer AS di wilayah mereka, dan peran mereka dalam pengeboman negara lain.
“Mengapa Pangkalan Al-Udeid, yang mengendalikan cuaca dan radar, tidak turun tangan untuk mencegah agresi brutal terhadap negara yang bersekutu dan bersahabat dengan Amerika Serikat (AS)? Apakah pangkalan itu tiba-tiba mati?” tulisnya.
Analis militer dan intelijen strategis, Nidal Abu Zeid, di Roya TV menyatakan bahwa operasi serangan tersebut telah gagal, seperti halnya semua operasi militer Israel lainnya di Gaza.
Menurutnya, Netanyahu adalah pihak yang kini akan dipermalukan dan menanggung akibatnya atas operasi ini, dan bahwa netralitas pasukan militer AS kini juga dipertanyakan di tengah keberpihakannya yang mutlak kepada Israel.
Banyak netizen Yordania di Facebook, termasuk Ali al-Munasira, yang menyorot potensi peran pangkalan Al-Udeid dalam kolusi dengan pangkalan militer AS di Yordania di kemudian hari, jika kubu sayap kanan Israel memutuskan untuk “mendisiplinkan” rakyat Yordania atau menyerang kerajaan.
Al-Munasira menyinggung salah satu komentar yang paling banyak beredar di platform Yordania pasca serangan Israel terhadap Qatar, berkaitan dengan keberadaan pangkalan AS dan peran mereka di masa mendatang dalam konsensus rakyat Yordania.
Dr. Thabet Al-Amro di Facebook juga berkomentar dengan menyatakan bahwa pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan moral dan hukum bagi pemerintah Yordania.
Tayseer Al-Jabri dalam diskusi di media sosial menyebutkan bahwa pernyataan Kementerian Luar Negeri Yordania lebih kuat daripada Qatar dalam hal kecaman. Alia Al-Bourini juga bergabung dengan para pencela dan pengkritik Arab. (mm/raialyoum)