AlQuds, LiputanIslam.com – Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa para pemimpin badan-badan keamanan Israel berpendapat bahwa rezim Zionis ini harus melunakkan sikapnya agar dapat memulangkan orang-orang Israel yang ditawan oleh Hamas di Jalur Gaza, karena Hamas tidak akan menerima pemulangan itu jika Israel tidak mengakhiri perang dan menarik diri dari Jalur Gaza.
Yedioth Ahronoth pada hari Ahad (17/11) menyebutkan, “Para pemimpin badan-badan keamanan percaya bahwa sikap Israel yang tidak fleksibel berarti menyerahkan nyawa para tawanan yang masih hidup.”
Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dijadwal mengadakan sesi diskusi mengenai masalah tawanan, yang dihadiri Menteri Bezalel Smotrich, Itamar Ben Gvir, dan Gideon Sa’ar pada Minggu malam , dan mereka membahas upaya menggerakkan lagi negosiasi.”
Menurut Yedioth Ahronoth, para petinggi badan-badan keamanan berpendapat bahwa Israel harus fleksibel dalam sikapnya mengenai penarikan diri dari Gaza dan diakhirnya perang, jika ingin mencapai kesepakatan, namun pendapat demikian selama ini ditolak oleh Netanyahu.
Badan-badan keamanan Israel memperkirakan sebanyak 51 tawanan masih hidup di antara 101 tawanan, dan para pemimpin badan-badan itu berusaha mencari terobosan untuk memulangkan tawanan yang masih hidup.
Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz pada hari Minggu bersikukuh menyatakan bahwa tujuan memulangkan tawanan Israel tetap menjadi tujuan utama perang tanpa pertimbangan politik apa pun, dan berjanji akan berupaya dengan segala cara untuk memulangkan mereka.
Hal ini terjadi di tengah gelombang kritik luas terhadap kebijakan pemerintah dalam masalah ini, dan keluarga para tawanan menuduh pemerintah menelantarkan anak-anak mereka yang tertawan. (mm/raialyoum)