Ankara, LiputanIslam.com – Para jenderal terkemuka Israel dilaporkan menganjurkan gencatan senjata di Jalur Gaza, di tengah kekhawatiran potensi perang dengan Hizbullah.
Mengutip keterangan beberapa pejabat Israel, harian The New York Times, pada hari Selasa (2/7) melaporkan bahwa para jenderal itu berupaya untuk memulai gencatan senjata di Gaza bahkan jika hal itu membuat Hamas tetap berkuasa untuk sementara waktu.
Para jenderal itu berpendapat bahwa pasukan Israel memerlukan waktu untuk pemulihan diri jika terjadi perang yang lebih besar melawan Hizbullah, mengingat Israel tidak siap untuk melakukan pertempuran lebih lanjut setelah perang berbulan-bulan di Gaza.
Gencatan senjata dengan Hamas juga dapat memfasilitasi kesepakatan dengan Hizbullah, kata para pejabat anonim Israel.
Laporan itu mengatakan para jenderal Israel yakin gencatan senjata adalah cara terbaik untuk menjamin pembebasan sekitar 120 tahanan Israel yang masih ditawan di Gaza.
Menurut laporan New York Times, sikap para jenderal tersebut dilaporkan telah menciptakan keretakan antara militer dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang tegas menolak proposal gencatan senjata di Gaza.
Disebutkan bahwa dukungan penuh militer Israel terhadap gencatan senjata juga “mencerminkan perubahan besar dalam pemikiran mereka selama beberapa bulan terakhir, karena semakin jelas bahwa Netanyahu menolak untuk mengartikulasikan atau berkomitmen pada rencana pascaperang”.
Eyal Hulata, mantan penasihat Israel yang rutin berbicara dengan pejabat senior militer, juga mengatakan militer mendukung penuh pertukaran tahanan dan kesepakatan gencatan senjata.
Hulata mengatakan militer memiliki “lebih sedikit amunisi, lebih sedikit suku cadang, lebih sedikit energi dibandingkan sebelumnya – sehingga mereka juga berpikir bahwa jeda di Gaza memberi kita lebih banyak waktu untuk bersiap jika terjadi perang yang lebih besar dengan Hizbullah.”
Dia menjelaskan, “Militer khawatir akan terjadi konflik berkepanjangan di mana sumber dayanya secara bertahap habis, sementara para tawanan masih berada di Gaza dan para pemimpin Hamas masih buron. Dalam skenario ini, mempertahankan kekuasaan Hamas untuk sementara waktu dengan imbalan pembebasan tawanan tampaknya merupakan pilihan yang paling tidak buruk bagi Israel.”
Pada bulan Juni lalu, tentara Israel mengatakan bahwa mereka telah menyetujui rencana serangan terhadap Lebanon.
Di pihak lain, Pemimmpin Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah memperingatkan bahwa “tidak ada tempat” di wilayah pendudukan Israel yang akan terhindar dari senjata Hizbullah jika terjadi perang besar. (mm/presstv/raialyoum)