
NewYork, LiputanIslam.com – Surat kabar AS New York Times (NYT) menyatakan bahwa pemimpin gerakan Hamas di Jalur Gaza, Yahya Sinwar, mengemuka tidak hanya sebagai pemimpin yang berkemauan keras setelah tujuh bulan perang, melainkan juga sebagai seorang negosiator cerdik yang berhasil menggagalkan kemenangan Israel di medan laga.
Dikutip Al-Alam, Ahad (12/5), NYT melaporkan bahwa setelah tujuh bulan perang di Gaza, Yahya Sinwar di Gaza menjadi simbol kegagalan perang Israel.
“Bahkan ketika para pejabat Israel berusaha membunuhnya, mereka terpaksa bernegosiasi dengannya, meskipun secara tidak langsung,” tulis NYT.
NYT melanjutkan, “Sinwar tampil tidak hanya sebagai pemimpin berkemauan keras, namun juga sebagai negosiator cerdik yang berhasil menggagalkan kemenangan Israel di medan perang, sekaligus mengikutsertakan utusan Israel di meja perundingan.”
Surat kabar berbahasa Inggris ini menjelaskan, “Bagi para pejabat Israel dan Barat, Sinwar telah muncul selama negosiasi ini sebagai lawan yang tangguh dan operator politik yang terampil, yang mampu menganalisis masyarakat Israel… Dia tampak menyesuaikan kebijakannya dengan hal tersebut.”
NYT menyebutkan, “Saat di penjara, Sinwar belajar bahasa Ibrani dan mengembangkan pemahaman tentang budaya dan masyarakat Israel.”
Menurut NYT, para pejabat Israel dan AS memandang Sinwar sedang menggunakan pengetahuan ini “untuk menabur perpecahan di tengah masyarakat Israel dan meningkatkan tekanan terhadap Benjamin Netanyahu.”
“Mereka percaya bahwa Sinwar mengatur waktu peluncuran video beberapa tawanan Israel untuk memicu kemarahan publik terhadap Netanyahu selama tahap penting perundingan gencatan senjata,” tulis NYT.
Mengutip pejabat intelijen Israel dan AS, NYT menyebutkan, “Strategi Sinwar adalah mempertahankan perang selama mungkin untuk menghancurkan reputasi internasional Israel dan merusak hubungannya dengan sekutu utamanya, AS.”
NYT juga menuliskan, “Jika ini merupakan manuver Hamas, tampaknya hal ini membuahkan hasil: Israel memulai operasi minggu lalu di pinggiran Rafah, dan dengan latar belakang ini, Presiden Biden mengarahkan kritiknya yang paling keras terhadap kebijakan Israel sejak dimulainya perang.”
Sejauh ini, lebih dari 35.000 warga Palestina, sebagian besar anak-anak dan kaum perempuan, gugur dalam perang yang dimulai Israel pada 7 Oktober 2023 menyusul operasi pembalasan yang dilakukan oleh Hamas dan faksi-faksi pejuang Palestina lain yang berbasis di Gaza.
Serangan militer brutal Israel di Gaza mendapat dukungan militer dan politik tanpa pamrih dari sekutu Barat rezim Zionis Israel, termasuk AS dan Perancis. (mm/alalam)