NewYork, LiputanIslam.com – Surat kabar AS New York Times (NYT) melaporkan bahwa perang di Gaza sudah berlangsung lebih dari enam bulan, namun Israel gagal mencapai dua tujuan utamanya dalam perang di Gaza, yaitu menumpas Hamas dan memulangkan orang-orang Israel yang ditawan dari Jalur Gaza.
Dilaporkan oleh aluran Al-Mayadeen, Senin (22/4), NYT menyebutkan bahwa di saat yang sama penderitaan rakyat Palestina telah menyebabkan “terkikisnya dukungan bahkan di antara sekutu Israel,” dan ada pertanyaan mengenai apa yang telah dicapai, dan kapan serta bagaimana pertempuran dapat berakhir membuat “ketegangan global menjadi semakin tajam.”
NYT mengutip pernyataan para pejabat dan mantan pejabat AS yang menegaskan bahwa “Israel tidak mampu menghancurkan Hamas, dan tidak dapat melakukannya.”
Menurut surat kabar ini, para pejabat dan pengamat AS juga menduga kuat Hamas “akan tetap menjadi kekuatan di Gaza, bahkan setelah perang berakhir,” karena para pemimpin senior faksi pejuang Palestina itu masih ada di jaringan terowongan dan pusat operasi bawah tanah yang luas, dan mereka adalah “pengambil keputusan dalam negosiasi tawanan.”
Mengenai terowongan tersebut, beberapa pejabat dan mantan pejabat AS menegaskan bahwa fasilitas itu “memungkinkan Hamas bertahan dan membentuk kembali dirinya sendiri setelah pertempuran berhenti”.
NYT juga mengutip keterangan para pejabat AS dan Israel bahwa sistem terowongan itu membentang sepanjang ratusan kilometer , bertingkat-tingkat hingga 15 lantai di bawah tanah, dan mencakup komplek ruangan yang lebih besar yang digunakan sebagai pusat komando dan tempat berlindung.
Para pejabat Israel juga menyatakan bahwa Hamas dan faksi-faksi perlawanan Palestina lainnya masih memiliki banyak kekuatan, “di atas dan di bawah tanah.”
Seorang pejabat intelijen militer Israel mengonfirmasi bahwa sebanyak 4000 – 5000 pejuang perlawanan Palestina bertahan di Gaza utara.
Menyinggung invasi Rafah di selatan Jalur Gaza, NYT mengutip pernyataan para pejabat AS bahwa “Israel belum menyusun rencana untuk mengevakuasi warga sipil dari kota tersebut,” sehingga jumlah korban di Jalur Gaza akan membengkak.
NYT juga menyebutkan bahwa “satu-satunya cara untuk membuat Israel menghentikan operasi Rafah adalah dengan kesepakatan untuk pembebasan para tawanan.” (mm/almayadeen)