AlQuds, LiputanIslam.com – Surat kabar Israel Haaretz mengutip pernyataan sumber-sumber informasi bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memberitahu keluarga tawanan yang ditahan oleh para pejuang Palestina di Gaza bahwa “Israel siap untuk membuat konsesi demi kesepakatan baru.”
Haaretz menyebutkan bahwa Netanyahu memberi tahu keluarga tersebut bahwa “Israel tidak akan mengumumkan gencatan senjata sebagai bagian dari kesepakatan, seperti yang diminta Hamas”, dan bahwa “jika dia setuju untuk mengakhiri perang, jaminan internasional harus ditandatangani dan tidak dapat dilanggar.”
Menurut surat kabar tersebut, Netanyahu membantah adanya usulan nyata dari Hamas, namun mengatakan bahwa ada inisiatif, tanpa menjelaskan secara rinci.
Sementara itu, Menteri Keuangan Pendudukan Bezalel Smotrich menyebut pernyataan ada kemungkinan pembebasan tawanan Israel di Jalur Gaza, dan kemudian kembali berperang dan menumpas Hamas sebagai “fiksi ilmiah.”
Demikian pula, mantan ketua Dewan Keamanan Nasional Israel, Giora Eiland, menegaskan bahwa dia tidak melihat kembalinya tawanan Israel “kecuali Israel mengabaikan tujuan perang.”
Pembicaraan tersebut mengemuka ketika kegusaran meningkat di pihak pemukim Zionis dan keluarga para tawanan akibat kegagalan RezimZionis memulangkan anak-anak mereka dari Gaza.
Hal itu terlihat ketika keluarga para tawanan menyerbu sidang Komite Keuangan di Knesset, menuntut para anggotanya untuk bangkit dan bekerja untuk membebaskan para tawanan.
Sementara itu, sejumlah tentara Israel dilaporkan menolak bertugas setelah serangan 7 Oktober lalu.
Surat kabar Yedioth Ahronoth memberitakan bahwa 50 tentara wanita menolak dinas militer di unit pengintaian perbatasan, menyusul peristiwa 7 Oktober.
Beberapa hari yang lalu, radio resmi Israel mengkonfirmasi bahwa sejumlah tentara cadangan di tentara pendudukan menolak disertakan dalam pertempuran di Jalur Gaza.
Radio tersebut melaporkan bahwa pasukan yang menolak itu mengungkapkan adanya kesenjangan serius dalam tingkat pelatihan, dan mereka juga menganggap bahwa mereka dilatih untuk berperang di wilayah pendudukan, bukan di Gaza. (mm/raialyoum)
Baca juga: