TelAviv, LiputanIslam.com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dirinya bermaksud mengunjungi Kota New York, AS, dalam waktu dekat, meskipun ada ancaman penangkapan jika dia mendatangi kota tersebut.
Pernyataan ini mengemuka beberapa minggu setelah Anggota Dewan Kota Brooklyn, Ina Vernikov, mengundang Netanyahu untuk mengunjungi New York di hari pelantikan Walikota Zahran Mamdani pada tanggal 1 Januari 2026.
“Meskipun saya tidak dapat hadir pada hari itu, saya jamin bahwa saya akan segera mengunjungi New York, dan saya sangat ingin bertemu Anda saat itu,” tulis Netanyahu dalam suratnya kepada Vernikov.
Vernikov sendiri kepada New York Post mengaku sangat gembira dan memperkirakan Walikota New York Zohran Mamdani akan “mengamuk” ketika Netanyahu tiba di kota ini. Menurutnya, Walikota New York “tidak memiliki wewenang hukum untuk menangkap perdana menteri Israel yang sedang menjabat.”
Vernikov menuduh Mamdani berbohong untuk menarik perhatian. “Saya berharap dapat bertemu Benjamin Netanyahu di New York, dan komunitas Yahudi akan senang menyambutnya di tengah meningkatnya gelombang antisemitisme di sini dan di seluruh dunia,” ujarnya.
Di pihak lain, Mamdani mengumumkan bahwa ia akan memerintahkan Departemen Kepolisian New York untuk menangkap Netanyahu jika ia mengunjungi kota ini lagi, sembari mengutip surat perintah penangkapan tahun 2024 yang dikeluarkan oleh Pengadilan Kriminal Internasional atas dugaan kejahatan perang di Gaza.
Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Abdolrahim Mousavi memperingatkan bahwa rezim Israel sedang menjalan “false flag” (bendera palsu), operasi rahasia yang dirancang untuk membuat suatu tindakan (serangan, sabotase, dll.) terlihat seolah dilakukan oleh pihak lain atau musuh, bukan oleh pelaku sebenarnya, demi mengalihkan tanggung jawab. Menurut Mousavi, Israel melakukanya untuk membangkit ketakutan akan anti-Semitisme.
“Mereka (Zionis) telah membunuh komunitas Yahudi dan afiliasinya sendiri di negara lain untuk mencegah migrasi balik, menghindari kekacauan internal, dan menanamkan anti-Semitisme,” ungkapnya, Minggu.
Merujuk pada serangan mematikan di sebuahfestival Yahudi di Sydney, Australia, pekan lalu, Mousavi menjelaskan bahwa ini bukan pertama kalinya orang Yahudi menjadi sasaran di balik upaya mengesankan entitas Zionis Israel sebagai korban. “Entitas ini telah berulang kali melakukan kejahatan demikian di masa lalu,” tuturnya.
Seperti diketahui, sedikitnya 15 orang tewas dan puluhan lainnya terluka ketika dua orang bersenjata, seorang ayah dan anak, melepaskan tembakan pada festival Yahudi di sebuah pantai di Sydney pekan lalu. (mm/ry/pt)