Doha, LiputanIslam.com – Hamas tidak tumbang meskipun sebagian besar kekuatan militernya telah dihancurkan. Demikian kesimpulan laporan yang disiarkan situs web NBC News, sembari menyebutkan bahwa sejak gencatan senjata diterapkan, Hamas mengerahkan para anggota kepolisiannya di jalan-jalan yang telah ditinggalkan oleh tentara Israel.
Para pejabat keamanan Israel dan para pakarnya dalam urusan Gaza sepakat bahwa Hamas menderita kerugian parah, tapi tidak terhancurkan sepenuhnya. Ada kemungkinan Hamas mengandalkan para rekrutan baru.
Shalom Ben Hanan, mantan pejabat dinas keamanan umum Israel (Shin Bet), mengatakan, “Hamas mengalami kerugian parah dari segi kekuatan militer, tapi harus dikatakan bahwa mereka tidak tumbang. Mereka bisa jadi bukan merupakan ancaman dalam waktu dekat ini, tapi fasilitasnya masih ada.”
Menurut pakar Israel tersebut, Hamas juga memiliki sekira 15,000-25,000 pejuang. Perkiraan ini, katanya, bersandar pada laporan berkala yang diterima oleh para pejabat keamanan aktif Israel.
Seorang pejabat keamanan Israel, yang meminta tidak disebutkan identitasnya, mengatakan sekira 10,000-20,000 pejuang masih ada di barisan elit Hamas. Giora Eiland, mantan kepala Badan Keamanan Nasional Israel, dan mantan kepala bidang perencanaan IDF, memperkirakan jumlah pejuang yang terbunuh dalam perang mencapai 20,000 orang.
Namun, Eiland berpendapat bahwa Hamas tidak mendapat kesulitan dalam menutupi kerugian personilnya. Mereka dapat dengan mudah memulihkan kekuatannya, dan juga sangat mudah merekrut lebih banyak personil untuk menggantikan para pejuang yang terbunuh.
Semua pakar yang telah dihubungi oleh penyusun laporan NBC News sependapat bahwa jaringan luas terowongan Hamas masih tetap menjadi sumber kekuatan terbesarnya dan ancaman terbesar bagi Israel.
Laporan itu menyebutkan bahwa sekira 70-80 persen jaringan terowongan bawah tanah itu masih utuh, karena banyak sekali bagiannya tidak diketahui oleh tentara Israel. Para pakar yang menjadi narasumber laporan itu juga berpendapat bahwa Hamas merasa bertanggungjawab atas sentimen anti-Israel di tengah khalayak dunia, dan menilai transformasi dalam sentimen global ini sebagai prestasi baginya. (mm/aljazeera)