Sweida, LiputanIslam.com – Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) dan sebuah faksi pemberontak mengatakan bahwa militan bersenjata Druze berhasil mengusir faksi-faksi bersenjata lawan dari Sweida, pada hari Sabtu (19/7), dan merebut kembali kendali kota di Suriah selatan tersebut, sementara bentrokan terus berlanjut di wilayah lain di provinsi Sweida.
Mengutip sumber, SOHR melaporkan, “Petempur suku telah mundur dari kota Sweida” setelah petempur Druze melancarkan serangan besar-besaran. Sebelumnya pada hari Sabtu, pemimin Hay’at Tahrir Sham (HTS) yang menjadi presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa alias Abu Muhammad al-Julani mengumumkan gencatan senjata segera di provinsi Sweida yang sudah tujuh hari dilanda kekerasan berdarah.
Bentrokan antara Druze dan suku Bedouin menyebabkan intervensi pemerintah, Israel, dan pejuang suku dari berbagai wilayah Suriah, dan sejauh ini telah mengakibatkan menyebabkan lebih dari 900 orang tewas di Provinsi Sweida, menurut penghitungan SOHR.
Observatorium yang berbasis di Inggris dan mengandalkan jaringan sumber di Suriah itu pada hari Sabtu menyebutkan bahwa militan minoritas Druze “merebut kembali kendali…atas seluruh wilayah Kota Sweida” beberapa jam setelah bentrokan.
Ditambahkan bahwa militan suku menembaki kota Sweida setelah penarikan pasukan mereka, dan bentrokan masih berlanjut di tempat lain di provinsi Sweida.
Pada Sabtu pagi, orang-orang Badui dan suku bersenjata sempat berjaga-jaga di bagian barat kota Sweida. Namun, pada sore harinya, Bassem Abu Fakhr, juru bicara Gerakan Pria Bermartabat, salah satu dari dua kelompok bersenjata terbesar Druze, mengatakan kepada AFP bahwa “tidak ada orang Badui di kota ini.”
“Kami berkomitmen pada gencatan senjata, tapi orang-orang Badui menyerang kami dari beberapa arah di luar kota,” ujarnya.
Situs web lokal Sweida 24 melaporkan bahwa bentrokan sengit meletus di kota Ariqa di pedesaan utara Sweida.
Menteri Informasi Suriah Hamza al-Mustafa mengatakan dalam konferensi pers pada Sabtu malam bahwa gencatan senjata masih rapuh, dan bahwa bentrokan masih berlanjut di provinsi tersebut.
Mustafa menambahkan bahwa setelah fase pertama gencatan senjata, yang dimulai pada hari Sabtu dan mencakup pengerahan pasukan keamanan di provinsi tersebut, fase kedua akan ditandai dengan pembukaan koridor kemanusiaan.
Menteri Darurat dan Manajemen Bencana Suriah Raed al-Saleh mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa “situasi kemanusiaan sangat buruk” dan konvoi sedang menunggu untuk memasuki Sweida ketika “kondisi yang memadai” telah terpenuhi.
Kota Sweida dihuni oleh sekitar 150.000 penduduk, yang kini tinggal di rumah-rumah mereka tanpa listrik atau air, sementara persediaan makanan langka meskipun ada seruan bantuan berulang kali.
Pasukan HTS yang berkuasa di Suriah sempat mendatangi kota al-Suweida untuk membantu suku Bedouin melawan militan Druze, namun kemudian dipukul mundur oleh serangan udara pasukan Zionis Israel sehingga kemudian mundur dari sana. (mm/raialyoum)