Kairo, LiputanIslam.com – Berbagai media Arab dan internasional mengutip pernyataan sumber terpercaya bahwa Mesir telah mengajukan proposal baru untuk gencatan senjata di Gaza setelah melakukan kontak intensif dengan pemerintah AS, Hamas, dan Rezim Zionis Israel.
Sebuah sumber Hamas mengatakan bahwa Mesir telah mengajukan proposal baru untuk mencoba memperbarui perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas, dan bahwa gerakan tersebut telah menyetujui proposal tersebut.
Menurut proposal tersebut, Hamas akan membebaskan lima tahanan yang masih hidup, termasuk prajurit Idan Alexander, dengan imbalan pengembalian bantuan kemanusiaan, gencatan senjata selama beberapa minggu, dan pembebasan ratusan tahanan Palestina.
Sumber-sumber informasi mengatakan bahwa pejabat Mesir telah melakukan kontak intensif selama beberapa jam terakhir dengan rekan-rekan mereka di Tel Aviv, Washington, dan pimpinan Hamas. Sebuah usulan Mesir untuk gencatan senjata di Gaza diajukan sebagai bagian dari upaya menenangkan yang sedang berlangsung.
Dalam konteks ini, berbagai sumber melaporkan bahwa kontak tingkat tinggi antara Mesir dan AS baru-baru ini terjadi, di mana pihak Mesir menyatakan kesediaannya untuk mencapai kesepahaman dengan Hamas mengenai kelanjutan pembebasan para sandera, dengan syarat ada jaminan jelas dari AS untuk setiap kesepakatan potensial.
Usulan gencatan senjata Mesir terbaru mencakup komitmen pihak perlawanan untuk memberikan informasi terperinci mengenai tahanan yang masih hidup, jenazah, dan yang terluka, beserta bukti foto untuk mendukung informasi ini.
Usulan tersebut juga mencakup kesepakatan mengenai gencatan senjata awal di mana gencatan senjata akan segera berakhir, diikuti oleh negosiasi lebih dalam untuk mencapai jadwal pembebasan tahanan yang tersisa, sebagai imbalan atas penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Jalur Gaza.
Pada awal Maret 2025, fase pertama perjanjian yang berlangsung selama 42 hari telah berakhir, dan rezim pendudukan Israel kembali menutup penyeberangan untuk bantuan kemanusiaan, setelah mengizinkan sejumlah kecil bantuan masuk selama masa gencatan senjata.
Pemerintah Benjamin Netanyahu menolak untuk memulai tahap kedua perjanjian tersebut, dengan tujuan membebaskan lebih banyak tahanan Israel tanpa memenuhi komitmen tahap ini, terutama mengakhiri perang pemusnahan dan menarik diri sepenuhnya dari Gaza. Di pihak lain, Hamas telah menegaskan komitmen penuhnya terhadap ketentuan perjanjian tersebut. (mm/alalam)