Doha, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan bahwa rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih Jalur Gaza bukan saja tidak akan menyelesaikan masalah Palestina, melainkan juga akan menjadi “bom waktu” di kawasan Timur Tengah.
Dalam konferensi pers pada kunjungan resminya ke Qatar pada hari Rabu (26/2) dia menilai upaya melemahkan keputusan Dewan Keamanan PBB dan mengganti pembentukan negara Palestina dengan relokasi warga Palestina akan berkonsekuensi negatif.
Lavrov berada di Doha untuk bertemu dengan Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dari Qatar.
“Pembentukan Negara Palestina adalah masalah utama, dan jika ada upaya untuk melemahkan keputusan Dewan Keamanan tersebut dan mengganti pembentukan Negara Palestina dengan pemukiman kembali warga Palestina di seluruh kawasan, itu hanya akan memicu bom waktu,” katanya.
Menurutnya, hasil serupa sudah berulang kali terjadi selama beberapa dekade ketika tuntutan solusi dua negara diabaikan.
Lavrov mengatakan Rusia juga khawatir atas tindakan Israel menghalangi jalan menuju kesepakatan damai di kawasan itu.
Seperti diketahui, Trump telah mengusulkan relokasi warga Palestina dari Gaza ke negara-negara tetangga. Utusan khusus AS untuk Asia Barat, Steve Witkoff, mengatakan bahwa sebuah pertemuan puncak akan segera diadakan dengan pengembang dan perencana real estate dari kawasan itu untuk membahas rencana kontroversial untuk Gaza.
“Kami akan segera mengadakan pertemuan puncak dengan pengembang terbesar di kawasan Timur Tengah, banyak pengembang Arab — banyak perencana utama,” kata Witkoff dalam sebuah acara di Washington pada hari Selasa lalu.
“Saya pikir ketika orang-orang melihat beberapa ide yang muncul dari sini, mereka akan merasa kagum,” imbuhnya.
Presiden AS mengungkap rencana kejinya itu dalam konferensi pers di Gedung Putih pada awal Februari bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Menteri Urusan Militer Israel, Israel Katz, telah memerintahkan penyiapan rencana yang akan memaksakan “keberangkatan sukarela” warga Palestina dari Jalur Gaza.
Rencana Trump itu telah memicu kecaman internasional dan mendapat penolakan keras dari warga Palestina, para pemimpin Timur Tengah, dan pemerintah di seluruh dunia.
Warga Palestina menyebut rencana itu sebagai “deklarasi perang.” (mm/presstv)