Moskow, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov melontarkan pernyataan yang menyinggung sejarah krisis Palestina dan mengatakan bahwa “Israel tidak dapat menyelesaikan semua masalah dengan kekerasan.”
“Perlawanan Palestina tidak akan dapat dikalahkan, dan hal ini telah berlangsung selama 76 tahun sejak pendudukan Israel atas negara Palestina pada tahun 1948 ketika negara tersebut masih menjadi bagian dari Kerajaan Inggris,” ungkap Lavrov, Sabtu (31/8).
Dia menyebutkan bahwa London menjual negara Arab Palestina kepada negara Zionis untuk pertama kalinya berdasarkan Deklarasi Balfour pada tahun 1917, dan kedua kalinya bagi Kerajaan Inggris untuk mendapatkan uang yang diperlukan untuk memenangkan Perang Dunia II melawan Jerman pimpinan Hitler.
Lavrov mengatakan, “Alasan ketidakmampuan Israel mengalahkan poros perlawanan Palestina adalah karena Hamas mewakili rakyat Palestina yang menuntut kebebasan mereka, dan Hizbullah juga mewakili perlawanan rakyat Lebanon yang ingin membebaskan tanah mereka di selatan Lebanon yang diduduki Israel.”
Pada hari Selasa lalu, Lavrov mengatakan bahwa para pemimpin Israel menganggap semua warga Palestina di Jalur Gaza sebagai “teroris”, termasuk anak-anak.
Mengomentari perkembangan di Timur Tengah, dia mengatakan bahwa “tidak semua orang” menginginkan gencatan senjata.
“Beberapa pihak yang terlibat dalam konflik ingin terus bertempur karena hal itu menguntungkan mereka. Mereka (ingin) menjaga situasi tetap penuh kekerasan dan tidak menginginkan penyelesaian, sambil berharap akan ada perubahan dalam kancah politik.”
Dia juga mengatakan bahwa Israel ingin menunggu pemilihan presiden AS dengan harapan bahwa hal itu akan “menghilangkan beban tekanan dari masyarakat internasional” untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza.
Lavrov mengemukakan bahwa sejauh ini lebih dari 40.000 warga Palestina terbunuh, dan para korban ini sebagian besar adalah wanita dan anak-anak, sehingga merupakan hukuman kolektif yang ilegal dan melanggar hukum humaniter internasional.
Menanggapi pernyataan para pemimpin militer Israel bahwa “tidak ada warga sipil [di Gaza]” dan “setiap orang yang berusia di atas tiga tahun adalah teroris”, pejabat Rusia tersebut menilai pernyataan demikian “sangat berbahaya,” dan mengimbau srael “untuk menghindari ide dan ideologi ini.” (mm/alalam/mee)