Doha, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengatakan Israel tidak akan mampu melanjutkan perangnya di Jalur Gaza seandainya tidak didukung Amerika Serikat (AS).
Dalam wawancara dengan jaringan televisi Al Jazeera yang berbasis di Qatar, Jumat (24/11), Amir-Abdollahian mula-mula menyebutkan bahwa Iran telah menerima pesan dari AS bahwa Washington tidak ingin memperluas cakupan perang.
“Tanggapan kami terhadap AS ialah bahwa dengan mendukung Israel dan memasok senjata, AS memperluas cakupan perang,” sambungnya.
Israel mengobarkan perang dan mengerahkan mesin-mesin tempurnya di Gaza setelah Hamas melancarkan Operasi Badai Al-Aqsa di wilayah pendudukan pada tanggal 7 Oktober. Rezim tersebut telah menewaskan sedikitnya 14.854 orang, termasuk lebih dari 6.150 anak-anak dan 4.000 wanita, di Gaza.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu, Hamas mengumumkan gencatan senjata empat hari dengan Israel di Jalur Gaza yang akan menghentikan permusuhan di Gaza.
Hamas mengatakan kesepakatan tersebut, yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir, akan memungkinkan masuknya ratusan truk berisi bantuan kemanusiaan, obat-obatan dan bahan bakar ke Gaza.
Setelah tujuh minggu pembantaian, gencatan senjata mulai berlaku pada pukul 7:00 pagi hari Jumat. Perjanjian ini mengatur pembebasan warga Israel yang ditahan di Gaza dengan imbalan tahanan Palestina.
Menteri luar negeri Iran mengatakan AS yakin mereka dapat memutuskan siapa yang akan mengambil alih kekuasaan di Gaza tanpa memulangkan warga Palestina ke tanah air mereka. Namun, dia menilai Washington salah, karena “masa depan Gaza hanya ditentukan oleh rakyat Palestina sendiri”.
Sehari sebelumnya, Kepala biro politik Hamas Ismail Haniyeh dalam pertemuan dengan Amir-Abdollahian di Doha, ibu kota Qatar, mengapresiasi dukungan kuat Iran kepada para pejuang Palestina dalam perang di Gaza, dan menyebut gencatan senjata sebagai kemenangan “politik dan militer” bagi kubu resistensi. (mm/prestv)