Isfahan, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa kubu musuh negaranya menggeser taktik tekanannya terhadap Iran ke arah perang ekonomi setelah gagal mencapai tujuannya melalui cara militer.
Pada sebuah acara di kota Isfahan, Iran tengah, Kamis (25/12), Araghchi mengatakan, “Menurut saya, begitu musuh menyadari bahwa rakyat Iran tetap teguh, mereka sekarang menargetkan mata pencaharian rakyat. Melalui perang ekonomi dan sanksi, musuh ingin memperoleh apa yang gagal mereka peroleh melalui perang militer.”
Menyinggung hari-hari awal perang Israel dan AS terhadap Iran pada bulan Juni, Araghchi menyebutkan bahwa ketika bangsa Iran tetap teguh, sejak awal telah dikirim pesan-pesan yang meminta negosiasi untuk mengakhiri perang.
“Pada hari-hari awal perang 12 hari, mereka mengirim pesan yang mengatakan, ‘Mari kita bernegosiasi agar kita dapat mengakhiri perang,’” tuturnya.
Namun, sambungnya, jalannya perang menyebabkan perubahan nada AS, termasuk di media sosial.
“Selama perang 12 hari, unggahan presiden AS di X bergeser dari desakan penyerahan tanpa syarat menjadi seruan gencatan senjata,” ujarnya.
Dia lantas menekankan bahwa dengan petunjuk Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Iran memilih jalan perlawanan sepanjang agresi tersebut.
“Dengan kebijaksanaan Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, kami memilih perlawanan. Situasi mencapai titik di mana, pada hari ke-12, Amerika mengirim pesan yang mengatakan bahwa rezim Zionis akan menghentikan operasi mulai pukul empat pagi, dan meminta agar kami juga berhenti,” terangnya.
Araghchi menyebut perlawanan sebagai kunci keberhasilan Iran dalam menghadapi tekanan dan krisis.
“Rahasia kemenangan revolusi dan kemenangan bangsa Iran adalah perlawanan. Dalam kondisi dan krisis terberat sekalipun, bangsa yang menang adalah bangsa yang melawan dan tidak meninggalkan prinsip dan martabatnya,” pungkasnya. (mm/pt/ry)