Teheran, LiputanIslam.com – Dalam sebuah pesan langsung dan tegas kepada AS, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya tidak tunduk pada perintah dan tekanan asing eksternal, karerena itu intimidasi dan pengerahan kekuatan militer juga tidak akan memengaruhi kedaulatan dan keputusan Teheran.
Dia pada hari Ahad (82/) memperingatkan bahwa Iran telah membangun kekuatannya berdasarkan prinsip kemerdekaan dan penolakan hegemoni serta menganggap prinsip ini sebagai fondasi yang tak tergoyahkan dalam kebijakan luar negeri republik Islam ini sejak kemenangan revolusi Islam pada tahun 1979.
Araghchi juga memastikan negaranya tidak berupaya untuk memperoleh senjata nuklir, dan bahwa yang mengkhawatirkan musuh-musuhnya bukanlah asumsi bom nuklir, melainkan kemampuan Teheran untuk melawan kekuatan-kekuatan besar dan menolak perintah mereka.
“Mengenai independensi, kemerdekaan dan kehormatan, saya akan menjelaskan mengapa kami bersikukuh dengan pengayaan uranium, sekalipun perang dipaksakan terhadap kami. Jawabannya ialah karena siapapun tak berhak mengatakan kepada kami apa yang harus kami lakukan, apa yang kami inginkan, dan apa yang kami miliki. Bukankah ini makna perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni?” tegasnya.
Dia menambahkan, “Saya berhak memperkaya uranium sesuai hukum, dan ini kembali kepadanya jika saya hendak menerapkan hukum ini atau tidak. Beberapa tahun lalu mereka (AS) tidak memaksakan masalah ini terhadap kami, yaitu peniadaan pengayaan uranium atau menolkan pengayaan dengan dalih bahwa mereka khawatir.”
Dia juga mengatakan, “ Kami siap mengatasi kekhawatiran ini dan menanggapi segala pertanyaan dan persepsi mereka. Tapi siapapun tak berhak mengatakan kepada kami apa yang boleh kami miliki dan tak boleh kami miliki. Dan inilah semboyan dan jalan kami selama ini.”
Menteri Luar Negeri Iran menutup pernyataannya dengan mengatakan bahwa Iran tidak mencari perang, tetapi siap menghadapi. Dia juga menekankan bahwa kombinasi diplomasi dan kemampuan untuk merespon merupakan faktor yang mencegah pihak lain berpikir untuk memaksakan kehendak mereka dengan kekerasan.
Negosiasi tidak langsung antara Iran dan AS terjadi pada saat kawasan Teluk Persia kembali bersiap menghadapi potensi konfrontasi militer setelah AS mengerahkan pasukan udara dan angkatan laut dan mengancam akan menyerang Iran.
Araghchi menggambarkan pembicaraan di Muscat sebagai “awal yang baik,” dan menambahkan bahwa kedua belah pihak bermaksud untuk melanjutkan pembicaraan. (mm/alalam/aljazeera/presstv)