Teheran, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian bertemu dengan Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry di New York, AS, untuk meningkatkan hubungan dan kerja sama bilateral.
Amir Abdollahian dan Shoukry mengadakan pertemuan di sela-sela sidang tahunan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-78 pada hari Rabu (22/9).
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut pembicaraan kedua pihak mengenai isu-isu yang menjadi kepentingan bersama sebagai hal yang positif dan bermanfaat.
Kedua diplomat itu menyoroti latar belakang peradaban dan sejarah kedua negara serta kesamaan budaya mereka, dan menekankan perlunya membuka landasan bagi pemenuhan kepentingan bersama melalui dialog terus-menerus antara pejabat Teheran dan Kairo.
Para menteri itu juga menekankan bahwa hubungan dan kolaborasi yang lebih kuat antara Iran dan Mesir akan memenuhi kepentingan kedua negara Muslim dan berimplikasi positif bagi kawasan.
Sebelumnya, Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi pada konferensi pers di akhir kunjungannya ke markas PBB di New York mengatakan bahwa pertemuan para menteri luar negeri Iran dan Mesir dapat membuka jalan bagi pemulihan hubungan.
“Republik Islam Iran tidak melihat adanya hambatan dalam menjalin hubungan dengan Mesir, dan masalah ini juga telah diumumkan ke pihak Mesir,” katanya.
Para pejabat Mesir baru-baru ini mengatakan kepada The National bahwa Mesir dan Iran diperkirakan akan bertukar duta besar dalam beberapa bulan ke depan, sebagai bagian dari proses yang dimediasi oleh Oman untuk menormalisasi hubungan antara kedua kekuatan regional tersebut.
Dua pejabat mengatakan bahwa pertemuan prinsip telah disepakati antara Presiden Mesir El Sisi dan Presiden Iran Raisi. Mereka menambahkan pertemuan itu kemungkinan akan berlangsung pada akhir tahun ini.
Iran dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik pada tahun 1980 setelah Kairo mengakui mantan Shah Iran dan mengakui Israel. Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah mengumumkan kesiapannya untuk memperbaiki hubungan dengan Mesir dengan menyelesaikan perbedaan pendapat mengenai isu-isu tertentu. (mm/presstv)