Teheran, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad “tidak pernah meminta” kepada Iran maupun Rusia untuk menghadapi serangan faksi oposisi yang berakhir dengan penggulingan rezimnya.
Araghchi kepada televisi pemerintah pada hari Ahad (8/12) mengatakan bahwa pemerintah Suriah “tidak pernah meminta kami untuk membantu” secara militer. Dia mengaku “terkejut” menyaksikan “kecepatan” serangan faksi-faksi tersebut dan “ketidakmampuan” tentara Suriah menghadangnya, dan Bashar al-Assad juga terkejut atas sikap tentaranya.
Dalam juga pers, Araghchi mengatakan, “Semuanya jelas, baik berita maupun analisis sebenarnya mengindikasikan bahwa langkah demikian akan diambil. Kami tahu bahwa ada suatu rencana AS dan Israel, tapi dari sudut pandang lapangan dan intelijen, teman-teman kami sepenuhnya mengetahui pergerakan di Idlib, dan semua informasi telah ditransfer ke pemerintah Suriah.”
Araqchi menuturkan, “Apa yang mengejutkan adalah ketidakmampuan tentara Suriah untuk merespon, dan yang kedua adalah kecepatan perkembangan yang tidak terduga. Kemarin, di KTT Doha, semua negara hadir dalam diskusi ini, termasuk Arab Saudi, Mesir dan Yordania.”
Dia menambahkan, “Pertanyaannya adalah mengapa tentara Suriah mundur begitu cepat? Hal ini tidak terduga. Bashar al-Assad sendiri terkejut dengan perilaku tentaranya, dan jelas bahwa tidak ada analisis yang tepat di Suriah sendiri. Menurut pendapat saya, tentara Suriah telah jatuh ke dalam cengkeraman perang psikologis.”
Menteri Luar Negeri Iran menjelaskan,“Tentara Suriah tidak mampu melawan, dan masalahnya sebagian besar bersifat psikologis. Tidak ada yang percaya. Kami mengadakan pertemuan puncak Astana di Doha kemarin, dan kemudian para menteri luar negeri lainnya segera tiba di Doha dan meminta kami untuk mengadakan pertemuan puncak bersama dengan lima negara lainnya. Di sana, semua orang prihatin atas perkembangan di Suriah dan implikasinya bagi kawasan secara keseluruhan. Ada keinginan bahwa Suriah tidak akan mengalami keruntuhan dan perpecahan internal, dan ISIS tidak akan kembali lagi. Dalam pernyataan kami di Doha, kami menyerukan dimulainya dialog antara pemerintah dan oposisi. Namun perkembangan berlangsung cepat.”
Araghchi melanjutkan: “Ini adalah kenyataan yang terjadi dan kami menyadari konspirasi yang sedang terjadi. Semua informasi telah diberikan kepada tentara dan pemerintah Suriah, namun tentara tidak punya motivasi untuk menanggapinya.”
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Ahad malam menekankan bahwa rakyat Suriah adalah pihak yang harus menentukan masa depan negara ini beserta sistem politik dan pemerintahannya.
Poros Resistensi Tetap Aktif
Menteri Luar Negeri Iran mengatakan bahwa poros perlawanan sudah pasti terdampak oleh perkembangan di Suriah, dan Teheran kuatir terhadap eksploitasi Rezim Zionis Israel atas situasi di Suriah, dan inilah yang terjadi.
Abbas Araqchi juga menyebtkan Hizbullah dan Poros Resistensi sudah pernah melewati tantangan-tantangan yang lebih besar daripada apa yang sedang terjadi sekarang. Dia lantas memastikan bahwa poros ini akan terus berjalan di jalurnya, dan tidak akan terhentikan oleh apa yang terjadi di Suriah. (mm/raialyoum/alalam)
