Quds, LiputanIslam.com – Sebuah situs web Israel pada Selasa malam (17/9) memberitakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam konsultasi keamanan dengan para menteri dan petinggi badan intelijen telah mensahkan keputusan untuk meledakkan perangkat pager secara berantai di Lebanon pada awal pekan ini.
Situs Walla mengutip pernyataan pejabat senior anonim AS bahwa Israel memang berada di balik ledakan di Lebanon tersebut, yang menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai sekitar 3.000 lainnya, meskipun kantor Netanyahu pada hari Selasa menepis isu postingan penasihatnya Topaz Luke yang telah dihapus di platform X tentang hal itu, yang mengisyaratkan tanggung jawab Israel atas peledakan tersebut.
Menyusul peledakan ribuan perangkat komunikasi pager milik anggota Hizbullah dan warga sipil itu, para aktivis menyebarkan berita di situs jejaring sosial tentang penarikan perangkat komunikasi jenis ini dari banyak dokter dan pegawai universitas beberapa hari yang lalu, dengan menganggapnya sebagai “kebetulan yang aneh.”
Pager adalah perangkat komunikasi elektronik nirkabel portabel berukuran kecil yang digunakan oleh warga sipil, petugas kesehatan, dan berbagai pihak lain untuk berkomunikasi secara internal atau dalam berbagai kelompok dan sistem. Perangkat ini beroperasi dengan baterai yang dapat diisi ulang dan menerima pesan tertulis, komunikasi, serta sinyal audio dan cahaya.
Menurut Walla, serangan siber itu melumpuhkan sebagian besar sistem komando dan kendali militer Hizbullah, dan para pejabat Israel menyatakan kini ada kemungkinan besar akan terjadi eskalasi besar-besaran di perbatasan utara, sehingga tentara Israel bersiaga tinggi untuk mengantisipasi respon skala besar dari Hizbullah.
“Operasi untuk meledakkan radio pager disetujui pada awal minggu ini sebagai bagian dari serangkaian konsultasi keamanan yang dilakukan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan para menteri senior serta kepala badan keamanan dan intelijen,” ungkap sumber aninom Israel yang dikutip Walla.
Operasi ini terjadi kurang dari sehari setelah kunjungan utusan AS Amos Hochstein ke Israel, di mana dia memperingatkan Netanyahu ihwal konsekuensi eskalasi skala besar di Lebanon.
Pejabat Israel lainnya mengatakan kepada Walla bahwa Netanyahu dan Menteri Pertahanan Yoav Gallant menghabiskan beberapa jam pada hari Selasa di lubang (ruangan bawah tanah yang dibentengi) di Kirya (markas besar Kementerian Pertahanan) di Tel Aviv untuk membahas situasi di Lebanon.
Walla menjelaskan bahwa Israel melakukan operasi tersebut untuk “membuka fase baru dalam pertempuran melawan Hizbullah di satu sisi, namun di sisi lain untuk menjaganya tetap berada di bawah ambang perang total”, dan “bertujuan untuk menggoyahkan keamanan Hizbullah dan menciptakan perasaan di kalangan organisasi ini bahwa mereka telah disusupi sepenuhnya oleh badan intelijen Israel.”
Sumber Walla mengatakan bahwa badan intelijen Israel sudah memperkirakan sebelum operasi tersebut bahwa Hizbullah mungkin akan membalas dengan serangan balik besar-besaran terhadap Israel. (mm/raialyoum)