Teheran, LiputanIslam.com – Teheran akan melepaskan tembakannya terhadap musuh mana pun yang mencoba melanggar kedaulatan teritorialnya dan mengusik kehormatan bangsa Iran.
Penasihat Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayjen Ebrahim Jabari, menegaskan bahwa Teheran belum sepenuhnya menunjukkan kemampuan penangkalannya, dan masih menyimpan sebagian kemampuannya untuk digunakan dalam setiap agresi baru terhadap negara tersebut.
Pernyataan ini dia sampaikan dalam Simposium Internasional ke-11 tentang Hak Asasi Manusia Amerika dalam Perspektif Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang diselenggarakan di Teheran dengan partisipasi para tokoh dalam dan luar negeri, Selasa (9/12).
Mayjen Jabari mengatakan, “Jika musuh melakukan agresi apa pun terhadap negara kami, kali ini balasannya akan menamatkan riwayat Netanyahu dan memusnahkan entitas pendudukan (Israel), sebagaimana umat-umat penindas manusia telah dimusnahkan di masa lalu.”
Simposium yang diselenggarakan bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia Internasional ini bertujuan menguji hak asasi manusia AS dengan mengungkap kejahatan AS, baik di dalam maupun di luar wilayahnya.
Wakil Kepala Badan Peradilan untuk Urusan Internasional dan Sekretaris Komite Hak Asasi Manusia di Iran, Nasser Siraj, mengatakan: “Hak asasi manusia telah menjadi kedok untuk kejahatan yang dilakukan oleh Barat, dan apa yang telah kita saksikan di Jalur Gaza dan agresi baru-baru ini terhadap Iran merupakan bukti nyata akan hal ini.”
Simposium yang dipimpin Iran dan mengkaji hak asasi manusia Amerika ini membuka jalan bagi negara-negara lain untuk mempertimbangkan kembali retorika hak asasi manusia yang digembar-gemborkan oleh negara-negara Barat, khususnya AS.
SekjenYayasan Hak Asasi Pemuda Iran, Amin Ansari, mengatakan: “Setelah kami menguji hak asasi manusia Amerika, tokoh-tokoh dari India, Venezuela, dan negara-negara lain menyoroti kejahatan yang dilakukan oleh negara-negara Barat di negara mereka sendiri. Sebuah simposium tingkat tinggi mengenai isu ini akan diadakan di Kesultanan Oman, dan kami juga sedang mempersiapkan simposium serupa di negara-negara lain.”
Para peserta simposium menegaskan bahwa hak asasi manusia telah menjadi alat di tangan Barat untuk melaksanakan politik kolonialnya, menjatuhkan sanksi yang tidak adil, menjarah sumber daya nasional, dan memicu perang proksi.
Dalam simposium ini terlihat jelas bahwa hak asasi manusia tidak lebih dari sebatas alat untuk menekan, mendominasi, dan melanggar martabat berbagai bangsa. (mm/alalam)